Dilansir Oracle, laporan keuangan adalah kumpulan informasi yang menunjukkan kondisi finansial dan kinerja suatu bisnis dalam periode tertentu. Di dalamnya terdapat informasi mengenai pendapatan, beban, aset, utang, modal, hingga pergerakan kas perusahaan.
Bagi pemilik bisnis, laporan keuangan bukan sekadar dokumen administrasi. Data di dalamnya dapat membantu menjawab pertanyaan yang sangat praktis, seperti:
- Apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan?
- Apakah kas perusahaan cukup untuk menjalankan operasional?
- Berapa jumlah utang yang harus dibayar?
- Apakah nilai aset bisnis terus bertambah?
- Dari mana uang perusahaan berasal dan digunakan untuk apa?
Karena setiap laporan saling berhubungan, memahami urutan laporan keuangan akan membantu Anda membaca kondisi bisnis secara lebih sistematis dan tidak hanya melihat omzet atau saldo rekening.
Mengapa Urutan Laporan Keuangan Penting?
Masing-masing laporan keuangan memiliki fungsi yang berbeda. Jika dibaca secara terpisah, informasi yang diperoleh bisa kurang lengkap.
Sebagai contoh, bisnis bisa terlihat menghasilkan laba dari laporan laba rugi, tetapi belum tentu memiliki kas yang cukup. Sebaliknya, saldo kas yang besar juga tidak otomatis menunjukkan bisnis sedang menghasilkan keuntungan.
Itulah mengapa laporan keuangan sebaiknya dipahami sebagai satu kesatuan.
Urutan yang terstruktur membantu pemilik bisnis melihat proses keuangan mulai dari hasil operasional, perubahan modal, posisi aset dan kewajiban, sampai arus uang yang sebenarnya.
Urutan Laporan Keuangan yang Perlu Dipahami Bisnis
Secara umum, satu set laporan keuangan terdiri dari beberapa laporan utama yang saling berkaitan.
Dalam praktik penyusunan, urutannya dapat menyesuaikan kebutuhan perusahaan dan standar pelaporan yang digunakan. Namun untuk memahami kondisi bisnis secara sistematis, berikut urutan laporan keuangan yang mudah digunakan.
1. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi menunjukkan bagaimana performa bisnis dalam periode tertentu.
Melalui laporan ini, Anda dapat melihat jumlah pendapatan yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan, hingga laba atau kerugian perusahaan.
Secara sederhana:
Pendapatan – Beban = Laba atau Rugi
Misalnya, sebuah bisnis mencatat:
- Penjualan: Rp150.000.000
- Harga pokok penjualan: Rp80.000.000
- Beban operasional: Rp40.000.000
Maka laba sederhananya adalah:
Rp150.000.000 – Rp80.000.000 – Rp40.000.000 = Rp30.000.000
Dari sinilah pemilik bisnis bisa mulai memahami apakah aktivitas penjualan yang dilakukan sudah menghasilkan keuntungan yang memadai.
Informasi yang Umumnya Ada dalam Laporan Laba Rugi
Beberapa komponen yang biasa ditemukan antara lain:
- pendapatan penjualan;
- retur dan potongan;
- harga pokok penjualan;
- laba kotor;
- biaya operasional;
- pendapatan atau beban lainnya;
- laba sebelum pajak;
- laba bersih.
Untuk bisnis retail dan F&B, laporan ini juga penting karena dapat membantu melihat apakah pertumbuhan omzet benar-benar diikuti pertumbuhan laba.
2. Laporan Perubahan Ekuitas
Setelah mengetahui laba atau rugi perusahaan, langkah berikutnya adalah melihat dampaknya terhadap modal pemilik.
Laporan perubahan ekuitas menunjukkan perubahan nilai modal dalam satu periode.
Perubahannya dapat berasal dari:
- tambahan modal;
- laba bersih;
- kerugian;
- pengambilan dana oleh pemilik;
- pembagian dividen;
- transaksi lain yang memengaruhi ekuitas.
Secara sederhana:
Ekuitas Awal + Tambahan Modal + Laba – Pengambilan/Dividen = Ekuitas Akhir
Misalnya:
Modal awal perusahaan sebesar Rp200 juta dan memperoleh laba Rp30 juta. Jika pemilik mengambil dana sebesar Rp10 juta, maka:
Rp200 juta + Rp30 juta – Rp10 juta = Rp220 juta
Nilai tersebut kemudian akan berkaitan dengan bagian ekuitas pada neraca.
3. Neraca atau Laporan Posisi Keuangan
Setelah mengetahui hasil operasional dan perubahan modal, selanjutnya bisnis perlu melihat posisi keuangannya.
Neraca menggambarkan kondisi aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan pada tanggal tertentu.
Rumus dasarnya adalah:
Aset = Liabilitas + Ekuitas
Berbeda dari laporan laba rugi yang menggambarkan aktivitas dalam periode tertentu, neraca menunjukkan posisi keuangan pada suatu titik waktu.
Misalnya per 31 Desember.
Membuka toko di platform marketplace populer dapat memperluas jangkauan pasar hingga ke seluruh penjuru daerah.
Apa Saja Isi Neraca?
Aset
Aset adalah sumber daya yang dimiliki bisnis dan mempunyai nilai ekonomi.
Contohnya:
- kas;
- saldo bank;
- piutang;
- persediaan;
- peralatan;
- kendaraan;
- bangunan.
Aset biasanya dikelompokkan menjadi aset lancar dan aset tidak lancar.
Liabilitas
Liabilitas adalah kewajiban perusahaan kepada pihak lain.
Contohnya:
- utang usaha;
- utang bank;
- biaya yang masih harus dibayar;
- kewajiban pajak;
- pinjaman jangka panjang.
Ekuitas
Ekuitas mencerminkan hak pemilik atas aset perusahaan setelah seluruh kewajiban dikurangi.
Bagian ini dapat mencakup:
- modal;
- laba ditahan;
- tambahan modal;
- komponen ekuitas lainnya.
Neraca yang baik harus berada dalam kondisi seimbang antara kedua sisi persamaan akuntansi.
4. Laporan Arus Kas
Laporan berikutnya adalah laporan arus kas.
Laporan ini menunjukkan uang yang benar-benar masuk dan keluar dari perusahaan.
Bagian ini sangat penting karena laba tidak selalu sama dengan kas.
Contohnya, sebuah perusahaan menjual produk senilai Rp100 juta secara kredit. Pendapatan tersebut mungkin sudah tercatat dalam laporan laba rugi, tetapi uangnya belum tentu masuk ke rekening perusahaan.
Karena itu, laporan arus kas membantu melihat kondisi likuiditas yang sebenarnya.
Tiga Komponen Utama Arus Kas

Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Mencakup arus kas yang berasal dari kegiatan utama bisnis, misalnya:
- penerimaan pembayaran pelanggan;
- pembayaran pemasok;
- pembayaran gaji;
- biaya operasional.
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Berhubungan dengan pembelian atau pelepasan aset jangka panjang.
Contohnya:
- pembelian mesin;
- pembelian kendaraan;
- penjualan aset;
- investasi tertentu.
Pelajari panduan cara menghitung persen untuk mempermudah Anda dalam menghitung besaran diskon dan margin keuntungan produk.
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Mencakup aktivitas yang berkaitan dengan struktur pendanaan perusahaan.
Contohnya:
- tambahan modal;
- pinjaman;
- pembayaran pokok pinjaman;
- distribusi dividen.
Dari laporan ini, pemilik bisnis dapat mengetahui apakah uang perusahaan terutama berasal dari operasional atau justru dari tambahan pinjaman.
5. Catatan atas Laporan Keuangan
Bagian terakhir yang tidak kalah penting adalah catatan atas laporan keuangan.
Angka dalam laporan utama tidak selalu cukup untuk menjelaskan kondisi perusahaan secara lengkap.
Karena itu, catatan digunakan untuk memberikan informasi tambahan mengenai:
- kebijakan akuntansi;
- rincian akun tertentu;
- metode pencatatan;
- aset;
- utang;
- komitmen;
- transaksi tertentu;
- informasi lain yang relevan.
Dengan adanya catatan, pembaca dapat memahami konteks di balik angka yang disajikan.
Ringkasan Urutan Laporan Keuangan
Untuk mempermudah pemahaman, berikut gambaran sederhananya.
| Urutan | Laporan | Informasi Utama |
| 1 | Laporan Laba Rugi | Pendapatan, biaya, laba atau rugi |
| 2 | Laporan Perubahan Ekuitas | Perubahan modal perusahaan |
| 3 | Neraca | Aset, kewajiban, dan ekuitas |
| 4 | Laporan Arus Kas | Pergerakan kas masuk dan keluar |
| 5 | Catatan atas Laporan Keuangan | Detail dan penjelasan tambahan |
Urutan tersebut membantu pemilik bisnis membaca kondisi keuangan secara runtut, mulai dari kinerja operasional hingga posisi keuangan secara keseluruhan.
Bagaimana Hubungan Antar Laporan Keuangan?
Salah satu hal yang sering terlewat adalah bahwa laporan keuangan tidak berdiri sendiri.
Laba Rugi Terhubung dengan Ekuitas
Laba bersih yang dihasilkan perusahaan dapat menambah ekuitas apabila tidak seluruhnya didistribusikan kepada pemilik.
Ekuitas Terhubung dengan Neraca
Nilai ekuitas akhir akan tercermin dalam neraca.
Karena itu, kesalahan pada laporan laba rugi dapat berdampak pada laporan perubahan ekuitas hingga neraca.
Neraca Terhubung dengan Arus Kas
Perubahan saldo kas di neraca harus dapat dijelaskan melalui aktivitas dalam laporan arus kas.
Hubungan tersebut membuat pencatatan transaksi sejak awal menjadi sangat penting.
Jika transaksi penjualan, pembelian, persediaan, atau pembayaran tidak tercatat dengan benar, kesalahan dapat merambat ke beberapa laporan sekaligus.
Penghitungan beban biaya produksi secara akurat melalui harga pokok penjualan adalah kunci utama dalam menentukan harga jual barang.
Bagaimana Proses Membuat Laporan Keuangan?
Sebelum laporan keuangan terbentuk, transaksi harus melalui proses pencatatan terlebih dahulu.
Secara umum, alurnya dapat dipahami sebagai berikut.
1. Mengumpulkan Bukti Transaksi
Bisnis perlu mencatat dokumen seperti:
- faktur;
- struk;
- nota;
- bukti pembayaran;
- bukti transfer;
- transaksi pembelian;
- transaksi penjualan.
Dokumen tersebut menjadi dasar pencatatan.
2. Mencatat Transaksi
Setiap transaksi kemudian diklasifikasikan berdasarkan akun yang sesuai.
Contohnya transaksi penjualan dapat memengaruhi akun pendapatan, kas, piutang, dan persediaan.
3. Memindahkan Data ke Buku Besar
Transaksi dari jurnal kemudian dikelompokkan berdasarkan akun.
Tahapan ini memudahkan perusahaan mengetahui saldo masing-masing akun.
4. Menyusun Neraca Saldo
Saldo seluruh akun dikumpulkan untuk memastikan pencatatan debit dan kredit berada dalam posisi seimbang.
5. Membuat Jurnal Penyesuaian
Pada akhir periode, beberapa transaksi mungkin perlu disesuaikan.
Contohnya:
- penyusutan aset;
- biaya yang masih harus dibayar;
- pendapatan yang masih harus diterima;
- penyesuaian persediaan.
6. Menyusun Laporan Keuangan
Setelah seluruh data diperiksa dan disesuaikan, bisnis dapat mulai menyusun laporan keuangan.
Dari sinilah laporan laba rugi, perubahan ekuitas, neraca, dan arus kas terbentuk.
Cara Membaca Laporan Keuangan dengan Lebih Efektif
Memiliki laporan keuangan belum cukup. Pemilik bisnis juga perlu memahami bagaimana menggunakannya.
Jangan Hanya Melihat Omzet
Omzet tinggi belum tentu berarti keuntungan tinggi.
Bandingkan penjualan dengan:
- harga pokok penjualan;
- biaya operasional;
- laba kotor;
- laba bersih.
Misalnya omzet meningkat 20%, tetapi biaya bahan baku naik 35%. Dalam kondisi tersebut, margin keuntungan justru dapat menurun.
Perhatikan Posisi Kas
Bisnis dapat mencatat laba tetapi tetap mengalami kesulitan membayar pemasok.
Penyebabnya bisa berasal dari piutang yang terlalu tinggi atau perputaran kas yang lambat.
Karena itu, laporan laba rugi sebaiknya selalu dibaca bersama laporan arus kas.
Pantau Utang
Perhatikan apakah kewajiban perusahaan meningkat terlalu cepat dibandingkan aset dan pendapatan.
Utang bukan selalu hal negatif. Tetapi struktur utang harus disesuaikan dengan kemampuan bisnis menghasilkan arus kas.
Perhatikan Persediaan
Untuk bisnis retail dan F&B, persediaan memiliki pengaruh besar terhadap modal kerja.
Stok terlalu sedikit berisiko menyebabkan kehilangan penjualan.
Sebaliknya, stok terlalu banyak dapat menahan kas dan meningkatkan risiko barang rusak atau tidak terjual.
Memahami acuan tor adalah langkah penting agar pengerjaan proyek bisnis berjalan sesuai target dan kesepakatan awal.
Kesalahan yang Sering Terjadi saat Membuat Laporan Keuangan
Beberapa masalah laporan keuangan sebenarnya bermula dari pencatatan operasional sehari-hari.
Transaksi Tidak Dicatat Secara Konsisten
Penjualan sudah terjadi tetapi baru dicatat beberapa hari kemudian.
Akibatnya, data bisnis tidak lagi menggambarkan kondisi aktual.
Mencampur Uang Pribadi dan Bisnis
Kesalahan ini umum terjadi pada bisnis yang sedang berkembang.
Ketika rekening pribadi dan usaha bercampur, pemilik akan semakin sulit mengetahui keuntungan sebenarnya.
Stok Tidak Sinkron dengan Penjualan
Barang sudah terjual tetapi jumlah persediaan tidak berkurang.
Masalah ini membuat nilai persediaan dan harga pokok penjualan menjadi tidak akurat.
Terlalu Bergantung pada Pencatatan Manual
Semakin besar volume transaksi, semakin tinggi kemungkinan terjadi:
- salah input;
- transaksi ganda;
- transaksi terlewat;
- perbedaan stok;
- keterlambatan laporan.
Karena itu, digitalisasi pencatatan operasional menjadi semakin penting ketika bisnis mulai berkembang.
Apa Hubungan POS System dengan Laporan Keuangan?
Salah satu sumber data utama laporan keuangan bisnis retail, F&B, dan jasa adalah transaksi penjualan.
Di sinilah Point of Sales atau POS memiliki peran penting.
Sistem POS membantu mencatat transaksi saat transaksi terjadi.
Misalnya, ketika sebuah kedai menerima pesanan Rp75.000, sistem dapat mencatat:
- produk yang dibeli;
- jumlah transaksi;
- metode pembayaran;
- waktu transaksi;
- kasir yang melayani.
Pada sistem yang lebih terintegrasi, transaksi juga dapat berhubungan dengan pengurangan stok hingga pelaporan penjualan.
Artinya, semakin rapi data transaksi dari awal, semakin mudah pula pemilik bisnis melakukan rekonsiliasi dan menyiapkan informasi untuk laporan keuangan.
Kelola Transaksi Bisnis Lebih Rapi dengan HelloBill dari OttoDigital
Memahami urutan laporan keuangan merupakan langkah penting. Namun, kualitas laporan pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas data transaksi yang dicatat setiap hari.
Untuk bisnis dengan transaksi tinggi, pencatatan manual dapat menyulitkan pemilik usaha ketika harus memeriksa omzet, stok, transaksi kasir, maupun performa beberapa outlet sekaligus.
HelloBill dari OttoDigital hadir sebagai POS System yang membantu bisnis mengelola aktivitas kasir dan operasional secara lebih terstruktur.
Melalui sistem POS, bisnis dapat membangun proses pencatatan transaksi yang lebih rapi sehingga pemilik usaha memiliki data yang lebih baik untuk melakukan evaluasi bisnis.
HelloBill dapat digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan bisnis, khususnya usaha F&B dan retail yang membutuhkan pengelolaan transaksi, produk, stok, hingga operasional outlet secara lebih praktis.
Dengan proses yang lebih terdigitalisasi, Anda tidak harus menunggu rekap manual untuk mulai memahami performa bisnis.
Urutan laporan keuangan membantu pemilik bisnis memahami kondisi perusahaan secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan omzet atau saldo kas.
Laporan laba rugi menunjukkan hasil operasional. Laporan perubahan ekuitas menjelaskan perubahan modal. Neraca memperlihatkan posisi aset, kewajiban, dan ekuitas. Laporan arus kas menunjukkan pergerakan uang yang sebenarnya, sedangkan catatan atas laporan keuangan memberikan konteks tambahan terhadap angka yang disajikan.
Namun, laporan keuangan yang baik selalu dimulai dari pencatatan transaksi yang baik.
Untuk bisnis dengan aktivitas penjualan harian yang tinggi, penggunaan POS System dapat membantu membangun pencatatan yang lebih konsisten sejak transaksi terjadi.
Pelajari lebih banyak artikel dari OttoDigital seputar POS System, pembayaran digital, pengelolaan bisnis, keuangan, dan transformasi digital untuk membantu operasional usaha menjadi lebih terukur dan efisien.


