Kemudahan bertransaksi secara digital juga diikuti dengan semakin beragamnya modus penipuan.
Pesan yang mengaku berasal dari bank, tawaran investasi dengan keuntungan besar, undangan berbentuk file APK, hingga telepon yang meniru suara orang dikenal dapat menjadi bagian dari upaya penipuan.
Karena itu, memahami apa itu scammer menjadi penting sebelum memberikan:
- data pribadi;
- informasi rekening;
- OTP;
- PIN;
- password;
- atau melakukan transfer uang.
Secara sederhana, scammer adalah pelaku penipuan yang menggunakan manipulasi, identitas palsu, informasi menyesatkan, atau rekayasa sosial untuk memperoleh uang, data, akses akun, atau keuntungan lain dari korban.
Modusnya dapat berlangsung melalui:
- telepon;
- SMS;
- email;
- media sosial;
- aplikasi pesan;
- situs palsu;
- hingga platform digital lainnya.
OJK pada 2026 juga mengingatkan bahwa modus scam terus berkembang dan semakin sulit dikenali, sehingga masyarakat perlu memahami pola penipuan serta langkah yang harus dilakukan jika menjadi korban.
Apa Itu Scammer?
Scammer adalah individu atau kelompok yang melakukan penipuan dengan memanipulasi korban agar menyerahkan uang, informasi pribadi, data keamanan, atau akses terhadap akun tertentu.
Kata scammer berasal dari istilah scam yang berarti penipuan.
Dalam praktiknya, scammer tidak selalu menggunakan teknik teknis yang rumit.
Banyak kasus justru menggunakan:
- tekanan psikologis;
- rasa takut;
- rasa panik;
- rasa percaya;
- keserakahan;
- atau rasa penasaran.
Contohnya:
“Akun Anda akan diblokir dalam 10 menit. Klik link ini sekarang.”
Pesan semacam ini sengaja dibuat agar korban bereaksi cepat tanpa melakukan verifikasi.
Apa Perbedaan Scam dan Scammer?
Keduanya berbeda.
Scam
Scam adalah tindakan atau skema penipuan.
Scammer
Scammer adalah orang atau pihak yang menjalankan penipuan tersebut.
Contohnya:
Penipuan hadiah palsu = scam
Orang yang mengirim pesan hadiah palsu = scammer
Bagaimana Cara Kerja Scammer?
Sebagian besar scammer bekerja dengan pola yang hampir sama.
1. Mencari Target
Pelaku dapat memperoleh target melalui:
- nomor telepon;
- media sosial;
- database bocor;
- marketplace;
- grup percakapan;
- atau kontak acak.
2. Membangun Kepercayaan
Pelaku kemudian menyamar sebagai pihak yang terlihat meyakinkan.
Misalnya:
- bank;
- perusahaan;
- petugas pemerintah;
- kurir;
- teman;
- atasan;
- keluarga;
- atau perusahaan investasi.
3. Menciptakan Urgensi
Scammer biasanya tidak ingin korban memiliki banyak waktu untuk berpikir.
Mereka dapat mengatakan:
- rekening akan diblokir;
- transaksi mencurigakan sedang berlangsung;
- hadiah akan hangus;
- promo segera berakhir;
- atau keluarga sedang membutuhkan bantuan.
4. Meminta Tindakan
Setelah korban panik atau percaya, pelaku meminta korban melakukan sesuatu.
Misalnya:
- klik tautan;
- membuka file;
- memasukkan data;
- memberikan OTP;
- melakukan transfer;
- atau menginstal aplikasi.
5. Mengambil Keuntungan
Jika korban mengikuti instruksi, pelaku dapat memperoleh:
- uang;
- akses rekening;
- akun media sosial;
- data identitas;
- atau informasi keuangan.
Pembuatan surat perjanjian kerjasama menjamin kejelasan hak dan kewajiban hukum antarpihak yang bermitra.
Modus Scammer yang Sering Digunakan
Modus terus berubah mengikuti teknologi.
Berikut beberapa yang perlu dikenali.
1. Phishing
Phishing adalah penipuan yang bertujuan mengambil data dengan menyamar sebagai pihak tepercaya.
Biasanya melalui:
- email;
- SMS;
- WhatsApp;
- atau situs palsu.
Korban diarahkan ke halaman yang terlihat seperti situs resmi.
Kemudian diminta memasukkan:
- username;
- password;
- PIN;
- atau OTP.
Bank Indonesia juga mengingatkan bahwa pelaku phishing dapat membuat situs palsu yang menyerupai situs asli dan menyebarkan tautannya kepada calon korban.
2. Impersonation Scam
Pada modus ini, scammer menyamar sebagai pihak tertentu.
Contohnya:
- pegawai bank;
- petugas pajak;
- polisi;
- kurir;
- HR;
- customer service;
- atau bahkan anggota keluarga.
OJK dan Bank Indonesia sama-sama mengingatkan masyarakat terhadap modus impersonasi atau penipuan yang mengatasnamakan pihak tertentu.
3. Penipuan Investasi
Pelaku menawarkan investasi dengan janji:
- keuntungan tinggi;
- keuntungan pasti;
- risiko sangat kecil;
- dan hasil cepat.
Satgas PASTI mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap penawaran investasi yang menjanjikan keuntungan tinggi dan pasti dalam waktu singkat.
4. Penipuan Toko Online
Pelaku membuat:
- toko palsu;
- akun media sosial palsu;
- atau situs menyerupai toko resmi.
Setelah pembayaran diterima, produk:
- tidak dikirim;
- berbeda;
- atau akun penjual menghilang.
5. Hadiah atau Undian Palsu
Korban diberi tahu bahwa mereka memenangkan:
- hadiah;
- undian;
- cashback;
- atau bonus.
Namun korban diminta membayar:
- biaya administrasi;
- pajak;
- pengiriman;
- atau aktivasi.
6. Advance Fee Scam
Pelaku meminta pembayaran di awal dengan janji keuntungan atau dana lebih besar setelahnya.
Contohnya:
- pinjaman cair setelah transfer biaya;
- warisan;
- hadiah luar negeri;
- atau komisi bisnis.
7. File APK Palsu
Pelaku mengirim file yang diklaim sebagai:
- undangan;
- resi;
- tagihan;
- surat;
- atau dokumen.
Korban diminta menginstalnya.
File tersebut dapat berisi perangkat lunak berbahaya.
Bank Indonesia secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak sembarang membuka file, aplikasi, atau tautan mencurigakan.
8. Spoofing
Spoofing adalah teknik menyamarkan identitas digital agar terlihat berasal dari pihak lain.
Contohnya:
- nomor telepon;
- email;
- atau identitas pengirim.
Komdigi mencatat bahwa penipu semakin menggunakan teknik spoofing, masking, dan penyalahgunaan identitas dalam panggilan maupun pesan penipuan.
9. Deepfake Scam
Teknologi AI juga dapat digunakan untuk meniru:
- suara;
- wajah;
- atau video seseorang.
Pelaku kemudian menyamar sebagai:
- atasan;
- keluarga;
- atau figur publik
untuk meminta uang atau informasi.
Komdigi pada 2026 juga menyoroti modus scam yang menggunakan AI untuk meniru suara seseorang.
10. Invoice atau Bukti Pembayaran Palsu
Dalam konteks bisnis, scammer juga dapat memalsukan:
- invoice;
- kuitansi;
- bukti transfer;
- atau dokumen pembayaran.
Satgas PASTI mencatat pemalsuan tagihan dan tanda terima pembayaran sebagai salah satu modus penipuan transaksi keuangan. Penggunaan document management platforms memudahkan penyimpanan dan pengorganisasian berkas digital perusahaan secara aman.
Ciri-Ciri Scammer
Tidak semua scammer terlihat mencurigakan.
Namun, beberapa pola berikut cukup umum.
1. Membuat Anda Panik
Scammer sering menggunakan kalimat seperti:
- “Akun akan diblokir.”
- “Transfer harus dilakukan sekarang.”
- “Transaksi sedang diproses.”
- “Hadiah hanya berlaku hari ini.”
Tujuannya agar korban tidak sempat berpikir.
2. Meminta OTP atau PIN
OTP dan PIN merupakan informasi keamanan.
Bank Indonesia menegaskan agar pengguna tidak memberikan:
- PIN;
- password;
- CVV/CVC;
- dan OTP
kepada siapa pun.
Jika seseorang mengaku dari bank atau penyelenggara pembayaran lalu meminta OTP, itu merupakan tanda bahaya.
3. Mengirim Link Mencurigakan
Contohnya:
bank-indonesia-promo.xyz
atau domain lain yang dibuat menyerupai website resmi.
Jangan menilai situs hanya dari desainnya.
Scammer dapat menyalin tampilan website asli dengan sangat mirip.
4. Meminta Transfer ke Rekening Pribadi
Waspadai jika pihak yang mengaku mewakili perusahaan meminta pembayaran ke rekening yang:
- berbeda;
- baru;
- tidak dikenal;
- atau atas nama pribadi.
5. Menawarkan Keuntungan Tidak Masuk Akal
Contohnya:
“Investasi Rp1 juta jadi Rp10 juta dalam satu minggu tanpa risiko.”
Janji keuntungan besar dan pasti merupakan salah satu ciri yang patut dicurigai.
6. Identitas Sulit Diverifikasi
Scammer dapat menghindari pertanyaan mengenai:
- alamat perusahaan;
- legalitas;
- nama lengkap;
- izin;
- atau kontak resmi.
7. Meminta Anda Menjaga Rahasia
Contohnya:
“Jangan beri tahu siapa pun karena proses ini rahasia.”
Ini sering digunakan agar korban tidak meminta pendapat orang lain.
8. Menghubungi dari Kanal Tidak Resmi
Periksa apakah komunikasi berasal dari:
- website;
- akun;
- nomor;
- atau email
resmi perusahaan.
OJK mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai pesan pribadi, media sosial, maupun tautan yang sumbernya tidak jelas.
9. Meminta Instal Aplikasi
Jangan menginstal aplikasi hanya karena diminta seseorang melalui:
- WhatsApp;
- SMS;
- Telegram;
- atau email.
Terutama jika file tidak berasal dari sumber resmi.
10. Meminta Data Pribadi Berlebihan
Waspadai permintaan:
- nomor KTP;
- foto KTP;
- PIN;
- OTP;
- nomor kartu;
- CVV;
- password;
- atau seed phrase.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengambil alih akun atau melakukan transaksi.
Cara Menghindari Scammer

Pencegahan biasanya lebih efektif daripada memulihkan kerugian setelah penipuan terjadi.
1. Jangan Mudah Percaya
Jangan hanya karena seseorang mengetahui:
- nama;
- nomor telepon;
- tempat kerja;
- atau data tertentu
berarti orang tersebut benar-benar pihak resmi.
Data dapat diperoleh dari banyak sumber.
2. Verifikasi melalui Kanal Resmi
Jika seseorang mengaku dari perusahaan:
tutup percakapan → cari nomor resmi → hubungi sendiri.
Jangan menggunakan nomor yang diberikan pelaku.
3. Jangan Berikan OTP
OTP hanya digunakan untuk autentikasi Anda sendiri.
Jangan pernah memberikannya kepada pihak lain.
4. Jangan Berikan PIN atau Password
Pihak resmi tidak membutuhkan PIN atau password Anda untuk melakukan verifikasi.
5. Jangan Klik Link Secara Terburu-buru
Periksa:
- domain;
- ejaan;
- alamat pengirim;
- dan konteks.
Jika ragu, buka website resmi secara manual melalui browser.
6. Gunakan Password yang Berbeda
Jangan gunakan password yang sama untuk:
- email;
- bank;
- media sosial;
- dan aplikasi lainnya.
Jika satu akun bocor, akun lainnya menjadi lebih terlindungi.
7. Aktifkan Two-Factor Authentication
Gunakan autentikasi tambahan jika tersedia.
Hal ini dapat mengurangi risiko pengambilalihan akun ketika password diketahui pihak lain.
8. Jangan Install APK Sembarangan
Unduh aplikasi dari sumber resmi.
Hindari file APK yang dikirim melalui pesan pribadi.
9. Cek Legalitas Perusahaan
Untuk perusahaan atau produk keuangan, cek legalitas melalui regulator yang relevan.
OJK menyarankan masyarakat memverifikasi legalitas pelaku usaha dan produk jasa keuangan melalui kanal resmi OJK.
10. Periksa Rekening Tujuan
Sebelum transfer:
- periksa nama;
- nomor rekening;
- nominal;
- dan tujuan transaksi.
Bank Indonesia juga mengingatkan pengguna untuk memastikan tujuan dan nilai pembayaran sebelum menyelesaikan transaksi.
Contoh Percakapan Scammer
Misalnya Anda menerima pesan:
“Selamat, Anda mendapatkan cashback Rp5 juta. Untuk aktivasi, silakan klik link berikut dan masukkan OTP.”
Ada beberapa tanda bahaya:
- hadiah tidak pernah diikuti sebelumnya;
- meminta klik tautan;
- meminta OTP;
- menawarkan nilai besar;
- menciptakan urgensi.
Tindakan yang lebih aman:
jangan klik → jangan berikan OTP → cek ke kanal resmi perusahaan. Penandatanganan kontrak kerja memberikan legalitas serta kepastian hubungan kerja antara perusahaan dan pekerja.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Sudah Terlanjur Ditipu?
Kecepatan bertindak sangat penting.
1. Hubungi Bank atau Penyedia Layanan
Jika sudah melakukan transfer atau melihat transaksi mencurigakan, segera hubungi penyedia jasa keuangan terkait.
Bank Indonesia menyarankan korban segera melapor ke penyedia jasa, mengamankan data, dan menyimpan bukti transaksi.
2. Blokir Akun atau Instrumen Pembayaran
Jika memungkinkan:
- blokir kartu;
- ubah password;
- logout perangkat;
- atau bekukan akun.
3. Ganti Password
Prioritaskan akun yang berkaitan dengan:
- email;
- perbankan;
- dan akun yang menggunakan password sama.
4. Simpan Bukti
Simpan:
- tangkapan layar;
- nomor telepon;
- rekening;
- URL;
- chat;
- bukti transfer;
- dan waktu kejadian.
5. Laporkan ke Indonesia Anti-Scam Centre
OJK meminta korban penipuan transaksi keuangan segera melapor melalui Indonesia Anti-Scam Centre atau IASC untuk mendukung proses penanganan dan pemblokiran rekening pelaku.
6. Laporkan Aktivitas Keuangan Ilegal
Jika kasus berkaitan dengan:
- investasi ilegal;
- pinjaman ilegal;
- atau aktivitas keuangan mencurigakan,
OJK menyediakan kanal pelaporan melalui Satgas PASTI.
7. Jangan Menghapus Percakapan
Percakapan dapat menjadi bukti.
Simpan sebelum:
- memblokir nomor;
- menghapus aplikasi;
- atau mengganti perangkat.
Scammer dan Social Engineering
Banyak scam bukan serangan teknologi murni.
Pelaku justru menyerang manusia.
Metode ini disebut social engineering.
Tujuannya adalah memanipulasi korban melalui:
- rasa takut;
- rasa percaya;
- rasa kasihan;
- rasa penasaran;
- atau tekanan.
Contohnya:
“Saya dari bank, transaksi Anda bermasalah.”
Korban panik.
Kemudian pelaku mengatakan:
“Sebutkan OTP supaya transaksi bisa dibatalkan.”
Di sinilah korban menjadi bagian dari proses serangan.
Karena itu, keamanan digital bukan hanya mengenai teknologi.
Literasi pengguna juga sangat penting.
Optimalisasi strategi penjualan secara konsisten sangat krusial untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.
Perbedaan Scammer, Hacker, dan Phisher
Istilah ini juga sering dianggap sama.
Scammer
Pelaku penipuan secara umum.
Hacker
Seseorang yang memiliki kemampuan mengeksplorasi atau memanipulasi sistem komputer.
Tidak semua hacker melakukan kejahatan.
Ada juga:
- ethical hacker;
- security researcher;
- dan profesional keamanan.
Phisher
Pelaku yang secara khusus menjalankan phishing untuk mengambil informasi atau akses akun.
Seorang phisher bisa disebut scammer.
Namun, scammer tidak selalu melakukan phishing.
Scam dalam Transaksi Bisnis
Bisnis juga dapat menjadi target.
Beberapa contohnya:
- invoice palsu;
- rekening vendor diganti;
- email CFO palsu;
- permintaan pembayaran mendesak;
- akun pelanggan palsu;
- bukti transfer palsu.
Karena itu, perusahaan membutuhkan prosedur verifikasi.
Contohnya:
Permintaan perubahan rekening vendor → verifikasi melalui kontak lama → approval → pembayaran
Jangan hanya mengandalkan satu email atau satu pesan.
Bagaimana Bisnis Mengurangi Risiko Scam?
Gunakan SOP Pembayaran
Tentukan:
- siapa yang dapat meminta pembayaran;
- siapa yang memverifikasi;
- siapa yang menyetujui.
Gunakan Multi-Level Approval
Pembayaran bernilai besar sebaiknya membutuhkan lebih dari satu persetujuan.
Edukasi Karyawan
Tim Finance, Sales, dan Customer Service sering menjadi target karena memiliki akses terhadap transaksi dan data.
Gunakan Kanal Resmi
Informasi pembayaran sebaiknya hanya diberikan melalui kanal yang telah ditentukan perusahaan.
Cocokkan Transaksi dengan Sistem
Jangan hanya bergantung pada bukti transfer berupa gambar.
Status pembayaran sebaiknya diverifikasi berdasarkan data transaksi yang benar-benar diterima.
Manajemen waktu yang efektif menjadi kunci utama untuk menciptakan minggu produktif di tempat kerja.
Pertanyaan Seputar Apa Itu Scammer
Apa itu scammer?
Scammer adalah individu atau kelompok yang melakukan penipuan untuk mendapatkan uang, data pribadi, akses akun, atau keuntungan lainnya dari korban.
Apa ciri-ciri scammer?
Beberapa cirinya:
- membuat panik;
- meminta OTP;
- meminta transfer;
- menggunakan link mencurigakan;
- menawarkan keuntungan tidak wajar;
- dan sulit diverifikasi.
Apa itu scam?
Scam adalah tindakan atau skema penipuan, sedangkan scammer adalah pelakunya.
Apakah scammer hanya beroperasi di internet?
Tidak.
Scammer dapat menggunakan:
- telepon;
- SMS;
- tatap muka;
- media sosial;
- email;
- maupun kanal lainnya.
Apakah bank meminta OTP melalui telepon?
OTP merupakan informasi rahasia dan tidak boleh diberikan kepada pihak lain. Bank Indonesia secara eksplisit meminta masyarakat menjaga kerahasiaan OTP, PIN, password, dan informasi keamanan pembayaran lainnya.
Apa yang harus dilakukan jika sudah transfer ke scammer?
Segera:
- hubungi bank;
- amankan akun;
- simpan bukti;
- dan laporkan ke IASC.
OJK mendorong korban melapor secepat mungkin agar proses pemblokiran rekening dapat dilakukan.
Apakah scam semakin canggih?
Ya.
Komdigi menyebut modus scam saat ini sudah memanfaatkan teknik seperti spoofing hingga AI untuk meniru suara orang lain.
Memahami Scammer adalah Bagian dari Keamanan Digital
Mengetahui apa itu scammer bukan berarti harus mencurigai semua aktivitas digital.
Yang penting adalah memiliki kebiasaan untuk melakukan verifikasi sebelum:
- memberikan data;
- menginstal aplikasi;
- mengklik link;
- atau mengirim uang.
Dalam transaksi digital, satu langkah sederhana seperti memeriksa:
nama penerima → nominal → sumber instruksi → kanal resmi
dapat membantu mengurangi risiko kesalahan maupun penipuan.
OJK dan Bank Indonesia juga secara konsisten mengingatkan masyarakat agar menjaga data keamanan seperti PIN, OTP, dan password, serta menggunakan kanal resmi ketika melakukan aktivitas keuangan.
Bangun Proses Pembayaran Bisnis yang Lebih Terstruktur bersama OttoDigital
Bagi bisnis, keamanan transaksi tidak hanya bergantung pada kewaspadaan pelanggan.
Proses pembayaran juga perlu dibuat lebih jelas dan terstruktur agar pelanggan mengetahui:
- ke mana harus membayar;
- berapa nominalnya;
- dan bagaimana status transaksi diverifikasi.
Payment Gateway OttoDigital membantu bisnis mengelola pembayaran digital melalui sistem yang terintegrasi. OttoDigital tercatat memiliki izin Bank Indonesia untuk layanan sistem pembayaran yang mencakup Payment Gateway serta penyelenggaraan QRIS sesuai ruang lingkup izin yang dipublikasikan perusahaan.
Bisnis juga dapat mengintegrasikan layanan OttoDigital melalui API atau pendekatan aplikasi/webview sesuai kebutuhan sistem.
Dengan proses pembayaran yang lebih terstruktur, bisnis dapat mengurangi ketergantungan pada instruksi transfer manual yang mudah menimbulkan kebingungan atau disalahgunakan.
Contoh alurnya:
Pelanggan membuat pesanan → memilih metode pembayaran → melakukan transaksi → sistem menerima status → pesanan diproses sesuai alur bisnis
Namun, sistem tetap perlu didukung dengan:
- SOP internal;
- edukasi pelanggan;
- pengelolaan akses;
- dan verifikasi transaksi.
Tidak ada sistem yang dapat menggantikan kewaspadaan sepenuhnya.
Gunakan Payment Gateway OttoDigital untuk membantu bisnis membangun proses pembayaran yang lebih terintegrasi, terstruktur, dan mudah dipantau.


