GMV Adalah – Mengukur kesuksesan bisnis eCommerce hari ini tidak lagi sesederhana melihat angka penjualan. Dengan semakin banyaknya platform, kanal transaksi, sumber data, dan variabel bisnis, mengandalkan revenue saja sudah tidak cukup.
Agar tetap kompetitif, Key Performance Indicator (KPI) bisnis harus ikut berkembang dan mencerminkan kompleksitas operasional digital saat ini.
Dalam artikel ini, kita akan membahas dua metrik utama yang paling sering digunakan dalam eCommerce, yaitu Gross Merchandise Value (GMV) dan Revenue.
Keduanya sama-sama penting, tetapi memiliki fungsi dan sudut pandang yang berbeda dalam menilai performa bisnis.
Bagi pengambil keputusan baik di sisi bisnis, keuangan, maupun teknologi memahami perbedaan ini membantu menyusun strategi yang lebih akurat, mulai dari ekspansi kanal penjualan hingga evaluasi performa transaksi lintas platform.
Di ekosistem digital yang semakin terfragmentasi, bisnis yang unggul adalah bisnis yang membaca data dengan konteks yang tepat dan GMV adalah salah satu konteks penting tersebut.
GMV Adalah
Dilansir Investopedia, GMV adalah total nilai transaksi barang yang terjual dalam periode tertentu di platform eCommerce atau customer-to-customer (C2C) sebelum dikurangi diskon, komisi, retur, atau biaya lainnya.
GMV sering digunakan untuk membaca skala dan laju pertumbuhan bisnis, karena menunjukkan seberapa besar aktivitas transaksi yang terjadi di ekosistem Anda. Dengan kata lain, GMV memberi gambaran seberapa “sibuk” mesin penjualan berjalan, terlepas dari berapa revenue bersih yang akhirnya masuk.
Cara Menghitung Gross Merchandise Value (GMV)
GMV adalah hal yang dihitung sebelum dikurangi biaya apapun seperti diskon, komisi platform, biaya pembayaran, atau biaya operasional lainnya.
Karena itu, GMV sering digunakan untuk mengukur pertumbuhan transaksi, baik secara month-over-month, quarter-over-quarter, maupun year-over-year.
Secara sederhana, GMV adalah hal yang menunjukkan total nilai penjualan kotor dari seluruh barang yang berhasil terjual dalam periode tertentu. Namun, agar angkanya tetap relevan, retur atau pembatalan transaksi biasanya perlu dikeluarkan dari perhitungan.
Rumus GMV
GMV = Harga Jual Barang × Jumlah Barang Terjual
Contoh sederhana
Jika Anda menjual:
- 100 produk
- dengan harga Rp500.000 per unit
Maka:
GMV = Rp500.000 × 100 = Rp50.000.000
Angka ini menggambarkan besarnya aktivitas penjualan, bukan keuntungan bersih. Karena itu, GMV paling tepat digunakan sebagai indikator skala dan momentum bisnis, lalu dikombinasikan dengan metrik lain seperti revenue, margin, dan customer retention untuk pengambilan keputusan yang lebih strategis.
Dengan pemahaman GMV yang tepat, bisnis bisa lebih akurat membaca performa penjualan lintas channel baik online, offline, maupun omnichannel.
Perbedaan GMV dan Revenue
Dalam laporan performa eCommerce, GMV dan Revenue sering terlihat mirip, padahal keduanya menjawab pertanyaan bisnis yang berbeda. GMV menunjukkan seberapa besar aktivitas transaksi yang terjadi di platform Anda, sementara Revenue menjelaskan berapa pendapatan riil yang benar-benar masuk ke bisnis.
Banyak bisnis terlihat “tumbuh” karena GMV naik, tetapi arus kas belum tentu sehat jika Revenue tidak ikut bergerak. Karena itu, memahami perbedaan keduanya penting agar keputusan strategis tidak keliru, terutama saat scaling, menarik investor, atau mengevaluasi efektivitas promo dan diskon.
| Aspek | GMV (Gross Merchandise Value) | Revenue |
| Definisi | Total nilai kotor seluruh transaksi penjualan | Pendapatan bersih yang diterima bisnis |
| Fokus utama | Aktivitas & volume transaksi | Uang yang benar-benar masuk |
| Termasuk diskon | Ya | Tidak |
| Termasuk biaya platform / payment | Ya | Tidak |
| Dikurangi retur & refund | Umumnya tidak (kecuali disesuaikan) | Ya |
| Fungsi utama | Mengukur skala & pertumbuhan bisnis | Mengukur profitabilitas |
| Cocok untuk | Evaluasi momentum penjualan & traction | Analisis keuangan & arus kas |
| Risiko jika dilihat sendiri | Terlihat besar tapi belum tentu sehat | Terlihat kecil tapi bisa sangat efisien |
| Relevan untuk | Growth team, investor, strategy | Finance, accounting, cashflow |
Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan GMV
GMV adalah metrik yang sering digunakan untuk melihat skala dan pertumbuhan transaksi, terutama di bisnis eCommerce dan marketplace. Namun seperti metrik lainnya, GMV punya kelebihan sekaligus keterbatasan yang perlu dipahami agar tidak salah mengambil keputusan.
Kelebihan GMV
1. Memberi gambaran performa penjualan secara keseluruhan
GMV membantu bisnis melihat total nilai transaksi yang terjadi, terlepas dari siapa pemilik barangnya. Ini sangat relevan untuk bisnis marketplace atau C2C, di mana platform hanya berperan sebagai penghubung antara penjual dan pembeli.
2. Relevan untuk model konsinyasi dan marketplace
Pada bisnis konsinyasi, perusahaan tidak membeli stok barang. Produk tetap milik pihak lain dan perusahaan hanya bertindak sebagai reseller resmi. Dalam konteks ini, GMV menjadi indikator yang tepat untuk mengukur aktivitas dan daya tarik platform, meskipun barang bukan milik bisnis secara langsung.
3. Mudah dihitung dan cepat dianalisis
Rumus GMV sederhana dan bisa digunakan untuk melihat pertumbuhan month-over-month, quarter-over-quarter, atau year-over-year. Ini menjadikannya metrik awal yang praktis untuk membaca momentum bisnis.
4. Memudahkan benchmarking dengan kompetitor
GMV sering digunakan investor dan pelaku industri untuk membandingkan skala bisnis antar platform dalam industri yang sama.
Kekurangan GMV
1. Bukan cerminan pendapatan sebenarnya
GMV tidak menunjukkan uang yang benar-benar masuk ke perusahaan. Pada model marketplace, sebagian besar nilai transaksi dibayarkan ke penjual. Pendapatan bisnis biasanya hanya berasal dari fee atau komisi. Contoh: GMV Rp500 juta dengan fee 2% → Revenue sebenarnya hanya Rp10 juta.
2. Tidak menggambarkan profitabilitas
GMV tinggi tidak otomatis berarti bisnis sehat. Tanpa melihat Revenue, biaya operasional, dan margin, GMV bisa menyesatkan dalam evaluasi keuangan.
3. Tidak mencerminkan kualitas pelanggan
GMV tidak memberi insight tentang:
- pelanggan repeat
- tingkat loyalitas
- kepuasan pelanggan
Padahal faktor-faktor ini sangat menentukan keberlanjutan bisnis jangka panjang.
4. Kurang relevan jika berdiri sendiri
Untuk bisnis yang memproduksi dan menjual barang sendiri, GMV hanya menunjukkan nilai penjualan kotor, tanpa konteks perilaku pelanggan atau efisiensi akuisisi.
Memanfaatkan Data GMV untuk Mendorong Hasil Bisnis yang Lebih Baik
Jika ingin eCommerce tumbuh secara berkelanjutan, GMV sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai angka, tapi dijadikan dasar pengambilan keputusan. Data GMV yang dibaca dengan benar bisa membantu bisnis bergerak lebih presisi, bukan sekadar lebih besar.
1. Membaca Tren dan Pola Penjualan
Pantau GMV secara rutin untuk melihat:
- periode penjualan tertinggi
- tren musiman
- produk dengan performa terbaik
Insight ini penting untuk forecasting demand, perencanaan stok, dan timing promo agar lebih tepat sasaran.
2. Segmentasi Pelanggan yang Lebih Akurat
GMV bisa digunakan untuk mengelompokkan pelanggan berdasarkan perilaku belanja, seperti nilai transaksi atau frekuensi pembelian. Dengan begitu, promo dan campaign bisa disesuaikan untuk tiap segmen bukan one-size-fits-all.
3. Analisis Performa Produk
Lihat produk mana yang paling berkontribusi terhadap GMV. Fokuskan strategi pemasaran dan distribusi pada top performers, sekaligus evaluasi produk yang kontribusinya rendah untuk dioptimalkan atau dihentikan.
4. Optimasi Strategi Harga
Perubahan harga akan langsung tercermin di GMV. Dengan memantaunya, bisnis bisa mencari titik optimal antara volume penjualan dan margin, tanpa mengorbankan profitabilitas.
5. Efisiensi Operasional
GMV akan jauh lebih bermakna jika dianalisis bersamaan dengan metrik operasional lain, seperti:
- waktu pengiriman
- tingkat retur
- kendala pembayaran
Dari sini, bottleneck operasional bisa terlihat jelas dan diperbaiki.
6. Mengukur ROI Marketing
GMV membantu mengidentifikasi channel marketing mana yang benar-benar menghasilkan transaksi. Hasilnya, alokasi budget bisa lebih efisien dan performa campaign lebih terukur.
Saatnya Mengubah GMV Jadi Aksi Nyata
GMV yang besar tidak akan berarti tanpa sistem yang rapi di belakangnya.
- Dengan POS System OttoDigital, setiap transaksi tercatat real-time dan langsung terbaca dalam performa penjualan.
- Didukung Payment Gateway OttoDigital, semua metode pembayaran terintegrasi sehingga tidak ada transaksi yang terlewat.
- Dan lewat Loyalty Program OttoDigital, GMV tidak berhenti di transaksi pertama pelanggan kembali, nilai transaksi meningkat, dan lifetime value tumbuh.
Pantau GMV lebih akurat. Optimalkan transaksi. Bangun loyalitas. Semua dalam satu ekosistem OttoDigital.



