Dalam operasional penjualan modern, istilah Sales Take Order sering dianggap sederhana: menerima pesanan dari pelanggan. Padahal, di balik aktivitas tersebut terdapat sistem, proses, dan strategi yang menentukan apakah bisnis hanya sekadar mencatat transaksi atau benar-benar mengoptimalkan pendapatan.
Bagi Business Owner, memahami konsep Sales Take Order bukan hanya soal peran tim sales, tetapi juga tentang bagaimana proses order terintegrasi dengan stok, distribusi, hingga pencatatan keuangan.
Artikel ini akan membahas secara komprehensif apa itu Sales Take Order, perbedaannya dengan Order Getter, serta bagaimana mengelolanya secara profesional dan terukur.
Apa Itu Sales Take Order?
Dilansir afroza, Sales Take Order adalah proses di mana tenaga penjualan menerima dan mencatat pesanan dari pelanggan yang sudah memiliki niat beli. Dalam konteks ini, sales berperan sebagai fasilitator transaksi, bukan sebagai pencipta permintaan.
Tenaga penjualan yang menjalankan fungsi ini sering disebut sebagai order taker. Mereka bekerja pada tahap akhir sales cycle, memastikan detail pesanan akurat, harga sesuai, stok tersedia, dan pengiriman berjalan lancar.
Contoh paling umum dapat ditemukan di:
- Retail modern dan tradisional
- Sales distribusi FMCG
- Customer service inbound
- Telesales inbound
- Horeca dan distributor
Dalam praktik distribusi consumer goods, misalnya, sales datang ke toko, mengecek stok, lalu mengambil order untuk pengisian ulang. Di sinilah peran Sales Take Order menjadi krusial dalam menjaga perputaran barang tetap stabil.
Order Taker vs Order Getter: Dua Pendekatan yang Berbeda
Di dunia penjualan, terdapat dua pendekatan utama: Order Taker dan Order Getter.
Order Taker
Berfokus pada pencatatan pesanan dari pelanggan yang sudah siap membeli. Pendekatannya lebih transaksional dan efisien. Target utamanya adalah menjaga ketersediaan produk dan meminimalkan out-of-stock.
Order Getter
Berperan aktif mencari prospek baru, melakukan negosiasi, upselling, hingga membangun hubungan jangka panjang. Pendekatannya lebih strategis dan proaktif.
Dalam organisasi skala besar, keduanya dibutuhkan. Namun, tanpa sistem yang mendukung, peran Sales Take Order seringkali menjadi bottleneck operasional karena masih dilakukan secara manual.
Peran Strategis Sales Take Order dalam Operasional Bisnis
Meski sering dipandang sebagai aktivitas administratif semata, Sales Take Order memiliki implikasi strategis yang langsung mempengaruhi kesehatan bisnis secara keseluruhan. Ketika proses ini tidak dikelola dengan presisi, dampaknya bukan hanya pada satu divisi, tetapi bisa merambat ke revenue, operasional, hingga reputasi brand.
Berikut penjelasan yang lebih mendalam mengenai dampaknya:
1. Akurasi Revenue Projection
Data order adalah fondasi utama dalam menyusun proyeksi pendapatan. Setiap pesanan yang masuk menjadi sinyal permintaan pasar. Jika pencatatan order dilakukan secara manual atau tidak sinkron dengan sistem pusat, maka angka proyeksi revenue berisiko bias.
Bagi CEO dan Finance Manager, ketidakakuratan ini bisa menyebabkan:
- Perencanaan produksi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah
- Kesalahan dalam pengalokasian anggaran
- Forecast penjualan yang tidak realistis
- Gangguan pada strategi ekspansi
Sebaliknya, ketika Sales Take Order tercatat real-time dan terintegrasi dengan sistem keuangan, manajemen dapat melihat performa harian, mingguan, hingga bulanan dengan presisi tinggi. Ini memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data, bukan asumsi.
2. Manajemen Inventory
Kesalahan satu digit dalam pencatatan order bisa berdampak besar pada pengelolaan stok. Order yang tidak tercatat dengan benar dapat memicu dua kondisi ekstrem: overstock atau stockout.
Overstock berarti modal tertahan di gudang, meningkatkan biaya penyimpanan dan risiko barang kedaluwarsa atau usang. Stockout berarti kehilangan peluang penjualan dan potensi pelanggan beralih ke kompetitor.
Dalam sistem distribusi yang kompleks, terutama dengan banyak cabang atau channel penjualan, Sales Take Order yang tidak tersinkronisasi akan menciptakan ketidaksesuaian antara stok fisik dan data sistem.
Integrasi order dengan sistem inventory memungkinkan:
- Pemotongan stok otomatis saat order dikonfirmasi
- Notifikasi reorder level
- Analisis perputaran barang
- Perencanaan pembelian yang lebih presisi
Bagi IT Lead dan Operations Manager, integrasi ini mengurangi konflik data antar departemen dan meningkatkan transparansi operasional.
3. Cash Flow Management
Kecepatan dan akurasi pencatatan order secara langsung memengaruhi arus kas. Order yang lambat diproses berarti pengiriman tertunda. Pengiriman tertunda berarti invoice tertunda. Invoice tertunda berarti pembayaran tertunda.
Dalam skala besar, keterlambatan kecil yang terjadi secara konsisten dapat mengganggu stabilitas cash flow.
Dengan sistem Sales Take Order yang terotomatisasi:
- Order langsung terkonversi menjadi dokumen pengiriman
- Invoice dapat dibuat otomatis
- Status pembayaran dapat dimonitor real-time
- Risiko piutang macet dapat diminimalkan
Bagi Finance Manager, visibilitas ini sangat penting untuk menjaga likuiditas perusahaan tetap sehat.
4. Customer Satisfaction
Di era kompetisi ketat, pelanggan tidak mentoleransi kesalahan dasar seperti:
- Salah kirim barang
- Jumlah tidak sesuai
- Harga berbeda dari kesepakatan
- Pengiriman terlambat
Kesalahan tersebut sering kali bermula dari proses order yang tidak akurat. Pelanggan mungkin hanya melihat hasil akhirnya, tetapi akar masalah sering berada di tahap Sales Take Order.
Sistem digital yang terintegrasi membantu memastikan:
- Validasi harga otomatis
- Ketersediaan stok terkonfirmasi sebelum order diproses
- Histori transaksi pelanggan tercatat rapi
- Tracking status pengiriman transparan
Ketika proses berjalan mulus, kepercayaan pelanggan meningkat. Loyalitas pelanggan terbentuk bukan hanya karena produk bagus, tetapi karena pengalaman transaksi yang konsisten dan profesional.
Pada akhirnya, Sales Take Order bukan sekadar mencatat pesanan. Ia adalah titik awal yang menentukan bagaimana revenue, inventory, cash flow, dan kepuasan pelanggan akan berjalan.
Di sinilah urgensi sistem digital terintegrasi menjadi nyata bukan lagi sekadar efisiensi operasional, tetapi fondasi untuk pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Tantangan dalam Pengelolaan Sales Take Order
Dalam praktik lapangan, banyak perusahaan masih menghadapi kendala seperti:
- Pencatatan manual di kertas atau spreadsheet
- Input ulang data ke sistem berbeda
- Ketidaksinkronan antara sales, gudang, dan finance
- Minim visibilitas performa sales secara real-time
- Kesalahan harga atau diskon
Akibatnya, terjadi duplikasi kerja, kesalahan pengiriman, hingga konflik internal antar departemen.
Bagi perusahaan dengan jaringan distribusi luas, risiko ini dapat menghambat pertumbuhan secara signifikan.
Cara Efektif Mengelola Sales Take Order

Mengelola Sales Take Order secara profesional memerlukan pendekatan sistematis.
1. Digitalisasi Proses Order
Gunakan aplikasi atau sistem mobile sales yang memungkinkan sales mencatat order langsung di lapangan dan terhubung ke pusat data secara real-time.
Keuntungan:
- Data langsung masuk ke sistem pusat
- Mengurangi human error
- Mempercepat proses pengiriman
2. Integrasi dengan Inventory & POS
Order yang masuk harus otomatis memotong stok di sistem agar tim gudang dan finance memiliki data yang sama.
Integrasi ini mencegah:
- Penjualan barang kosong
- Ketidaksesuaian stok fisik dan sistem
- Konflik data antar departemen
3. Monitoring dan Analytics
Gunakan dashboard untuk memantau:
- Volume order per sales
- Produk digital terlaris
- Margin per wilayah
- Rasio repeat order
Data ini penting bagi manajemen untuk mengambil keputusan strategis.
4. Standarisasi Pricing dan Diskon
Sistem harus memiliki kontrol harga dan skema diskon yang otomatis agar tidak terjadi manipulasi atau kesalahan input.
5. Automasi Approval
Untuk order dengan diskon besar atau nilai tinggi, sistem dapat menerapkan approval workflow otomatis.
Skill yang Dibutuhkan dalam Sales Take Order
Selain sistem, kualitas SDM tetap penting. Tenaga Sales Take Order yang baik harus memiliki:
- Ketelitian tinggi
- Kemampuan komunikasi
- Pemahaman produk
- Manajemen waktu
- Orientasi layanan pelanggan
Mereka adalah ujung tombak yang memastikan pengalaman pembelian berjalan tanpa hambatan.
Dampak Finansial yang Sering Diabaikan
Banyak CEO dan investor melihat Sales Take Order hanya sebagai fungsi administratif. Padahal jika tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa berupa:
- Penurunan margin akibat diskon tidak terkontrol
- Kerugian akibat retur
- Biaya distribusi meningkat
- Kehilangan peluang cross-sell
Sebaliknya, sistem Sales Take Order yang terintegrasi dapat meningkatkan efisiensi operasional hingga puluhan persen.
Transformasi Sales Take Order di Era Digital
Pasar modern menuntut kecepatan dan transparansi. Sales tidak lagi hanya membawa buku order, tetapi harus didukung oleh:
- Mobile ordering system
- Integrasi ke ERP
- Sinkronisasi dengan POS
- Dashboard performa real-time
- Tracking histori pelanggan
Pendekatan ini mengubah fungsi Sales Take Order dari sekadar pencatat transaksi menjadi penggerak pertumbuhan berbasis data.
Sales Take Order adalah fondasi operasional dalam sistem penjualan. Meski terlihat sederhana, proses ini berperan langsung terhadap akurasi revenue, pengelolaan stok, hingga kepuasan pelanggan.
Perusahaan yang masih mengandalkan sistem manual berisiko mengalami inefisiensi, kesalahan data, dan kehilangan potensi keuntungan. Sebaliknya, bisnis yang mengintegrasikan proses order ke dalam sistem digital terpusat akan memiliki visibilitas penuh, kontrol biaya yang lebih baik, dan kecepatan operasional yang lebih tinggi.
Di era kompetisi yang semakin ketat, kecepatan dan akurasi bukan lagi keunggulan tambahan tetapi standar minimum.
Saatnya Optimalkan Sales Take Order dengan Sistem Terintegrasi
Jika bisnis Anda ingin memastikan proses Sales Take Order berjalan cepat, akurat, dan terhubung langsung dengan inventory serta laporan keuangan, solusi digital yang terintegrasi menjadi langkah strategis.
OttoDigital menghadirkan sistem POS dan manajemen operasional yang membantu bisnis mengelola order, stok, dan laporan secara real-time dalam satu ekosistem terpadu.
Jangan biarkan proses order menjadi titik lemah operasional Anda. Saatnya beralih ke supply chain software yang lebih efisien, transparan, dan scalable bersama OttoDigital.


