Bagaimana cara menciptakan produk atau layanan yang benar-benar dibutuhkan pengguna sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis? Jawabannya terletak pada desain produk.
Desain produk adalah proses merancang pengalaman end-to-end yang berangkat dari kebutuhan pengguna, lalu diterjemahkan ke dalam solusi yang selaras dengan strategi, target, dan arah bisnis.
Jika UX design fokus pada kenyamanan dan kemudahan pengguna, maka desain produk bekerja lebih luas menghubungkan pengalaman tersebut dengan roadmap bisnis, teknologi, dan monetisasi.
Bagi perusahaan, desain produk bukan sekadar estetika. Ia menjadi fondasi untuk efisiensi operasional, adopsi pengguna, dan pertumbuhan transaksi.
Apa Itu Desain Produk?
“Desain produk bukan hanya soal hubungan antara produk dan pengguna, tapi juga bagaimana produk tersebut bersaing di pasar,” jelas Nikolas Klein, Product Designer di Figma.
Menurutnya, desain produk mencakup lebih dari sekadar UX design. Di dalamnya ada strategi produk, posisi kompetitif, hingga perencanaan go-to-market. Artinya, seorang product designer tidak hanya memikirkan pengalaman pengguna, tetapi juga memastikan solusi yang dirancang masuk akal secara bisnis.
Dalam praktiknya, desain produk harus mampu menjawab pertanyaan penting seperti:
- Berapa biaya desain dan pengembangan yang dibutuhkan?
- Bagaimana cara mengoptimalkan anggaran tanpa mengorbankan kualitas?
- Apakah produk selaras dengan target bisnis dan arah pertumbuhan perusahaan?
Di sinilah kolaborasi lintas tim menjadi kunci. Kerja sama antara product manager, researcher, tim teknologi, hingga marketing memastikan produk tidak hanya enak digunakan, tetapi juga layak dijual, mudah diadopsi, dan berkontribusi langsung pada performa bisnis.
5 Prinsip Utama dalam Desain Produk

Agar desain produk benar-benar berdampak, prosesnya harus mampu menyeimbangkan kebutuhan pengguna dan tujuan bisnis. Lima prinsip berikut menjadi fondasi dalam membangun produk yang relevan, berkelanjutan, dan kompetitif.
1. Berpusat pada Pengguna (User-Centered Design)
Desain produk yang kuat selalu dimulai dari pemahaman mendalam terhadap pengguna: apa masalah mereka, apa yang mereka butuhkan, dan apa tujuan mereka. Keputusan desain harus berbasis riset, user testing, dan feedback nyata—bukan asumsi internal.
Contoh: Spotify memanfaatkan data kebiasaan mendengarkan untuk menghadirkan fitur Discover Weekly yang terasa personal dan relevan bagi tiap pengguna.
2. Fungsional dan Mudah Digunakan (Functionality & Usability)
Desain yang menarik tidak akan berarti jika produk sulit dipakai atau tidak andal. Pengujian kegunaan secara rutin membantu menemukan titik friksi yang menghambat pengalaman pengguna dan konversi bisnis.
Contoh: Airbnb terus menguji alur pemesanan untuk memangkas langkah yang tidak perlu dan meningkatkan rasio booking.
3. Estetika dan Konsistensi Brand
Tampilan visual membentuk persepsi pertama pengguna terhadap kualitas dan kredibilitas produk. Desain harus konsisten dengan identitas brand dan nilai yang ingin disampaikan ke pasar.
Contoh: Apple dikenal dengan desain minimalis dan detail presisi yang memperkuat positioning sebagai brand premium.
4. Keberlanjutan (Sustainability)
Desain produk modern tidak bisa lepas dari aspek keberlanjutan. Buyer semakin memilih brand yang sejalan dengan nilai lingkungan dan tanggung jawab sosial.
Contoh: Patagonia membangun diferensiasi melalui penggunaan material daur ulang dan pendekatan repair over replace untuk memperpanjang siklus hidup produk.
5. Inovasi
Inovasi bukan sekadar fitur baru, tapi cara baru dalam menyelesaikan masalah pengguna. Perspektif segar dan keberanian menantang model lama membantu produk menonjol di pasar yang padat.
Contoh: Netflix mengubah industri hiburan dengan model on-demand, menggantikan pola konsumsi televisi tradisional.
Perbedaan User Experience dengan Desain Produk
Meski sering dianggap sama, desain produk dan UX design memiliki peran yang berbeda.
| Aspek Perbandingan | Desain Produk | UX Design |
| Fokus Utama | Menyelaraskan kebutuhan pengguna dengan tujuan bisnis | Menciptakan pengalaman pengguna yang mudah dan nyaman |
| Ruang Lingkup | Pengalaman pengguna, strategi bisnis, teknis, positioning pasar, dan manajemen produk | Usability, alur pengguna, struktur informasi, dan interaksi |
| Orientasi | Jangka menengah–panjang, berdampak pada pertumbuhan bisnis | Jangka pendek–menengah, fokus pada kenyamanan pengguna |
| Pertanyaan Kunci | Apakah solusi ini layak, relevan, dan menguntungkan untuk bisnis? | Apakah produk ini mudah digunakan dan dipahami pengguna? |
| Contoh Kasus | Menentukan alur checkout yang selaras dengan model bisnis dan brand | Menyederhanakan alur checkout agar cepat dan minim hambatan |
| Keterlibatan Tim | Bekerja lintas fungsi dengan product manager, bisnis, teknis, dan marketing | Lebih dekat dengan tim desain dan riset pengguna |
| Dampak ke Bisnis | Mendorong konversi, efisiensi, dan skalabilitas | Mengurangi friksi dan meningkatkan kepuasan pengguna |
| Relevansi untuk Fintech | Menentukan desain pembayaran, POS, dan loyalty yang berdampak ke revenue | Memastikan proses transaksi terasa intuitif |
Proses Desain Produk dalam 5 Langkah
Meski setiap perusahaan punya pendekatan berbeda, pada dasarnya proses desain produk mengikuti alur yang serupa. Di OttoDigital, pendekatan ini relevan untuk membangun produk payment gateway, POS system, dan loyalty program yang benar-benar dipakai dan berdampak ke bisnis.
1. Set Goals
Proses desain produk dimulai dari tujuan bisnis yang jelas. Owner bersama tim produk menentukan target jangka menengah hingga panjang misalnya meningkatkan konversi transaksi atau efisiensi operasional dalam dua tahun.
Framework seperti SMART goals membantu memastikan tujuan desain selaras dengan visi bisnis, bukan sekadar estetika.
2. Research
Tahap ini fokus mengumpulkan insight berbasis data. Tim desain produk melakukan riset pasar, analisis kompetitor (SWOT), hingga wawancara pengguna untuk memahami kebutuhan, kebiasaan, dan pain point nyata.
Di fase ini, keputusan desain mulai diarahkan oleh data, bukan asumsi.
3. Analyze
Hasil riset kemudian diterjemahkan menjadi insight yang bisa dieksekusi. Tim lintas fungsi produk, bisnis, dan teknis bekerja sama merumuskan solusi yang paling relevan dan realistis.
Tujuannya sederhana: memastikan solusi desain benar-benar menjawab masalah pengguna dan masuk akal secara bisnis.
4. Strategize & Plan
Tim produk menyusun strategi untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Biasanya mencakup rencana aksi 3–6 bulan pertama, prioritas fitur, hingga target jangka panjang.
Tahap ini penting untuk menyelaraskan semua tim agar desain, teknologi, dan bisnis berjalan ke arah yang sama.
5. Eksekusi dan Launching
Produk dikembangkan, diuji, dan diluncurkan ke pasar. Di fase ini, desainer juga berperan memastikan pengalaman pengguna tetap optimal melalui user testing dan feedback pasca launching.
Desain produk tidak berhenti saat rilis justru berlanjut lewat iterasi berbasis data penggunaan nyata.
Tantangan Desain Produk dan Cara Mengatasinya
Dalam praktiknya, proses desain produk hampir tidak pernah berjalan mulus. Tantangan akan selalu ada dan itu wajar. Kuncinya bukan menghindari masalah, tapi menyiapkan pendekatan yang tepat sejak awal.
1. Keterbatasan Biaya dan Anggaran
Batas anggaran sering memaksa tim mengorbankan fitur potensial atau kualitas eksekusi. Untuk mengatasinya, penting membuat estimasi biaya yang realistis sejak awal dan menyepakati prioritas bersama stakeholder.
Gunakan rapid prototyping untuk menguji ide dengan biaya rendah sebelum masuk tahap pengembangan penuh. Pendekatan phased rollout juga membantu menyebar biaya sekaligus mengurangi risiko.
2. Ketidaksinkronan Antar Stakeholder
Konflik visi antar tim produk, bisnis, teknologi, hingga marketing sering memperlambat pengambilan keputusan. Solusinya adalah komunikasi rutin lintas fungsi, dokumentasi keputusan yang transparan, dan tujuan bisnis yang jelas.
Sesi kolaboratif berbasis design thinking efektif untuk menggeser diskusi dari sekadar preferensi menjadi fokus pada solusi dan dampak bisnis.
3. Perubahan Tren dan Ekspektasi Pengguna yang Cepat
Pasar bergerak cepat. Desain yang relevan hari ini bisa terasa usang saat produk diluncurkan. Untuk tetap adaptif, bangun sistem desain yang fleksibel, lakukan riset pengguna secara berkelanjutan, dan manfaatkan masukan dari tim customer support yang paling dekat dengan suara pelanggan.
Pendekatan agile design memungkinkan tim melakukan penyesuaian cepat tanpa mengorbankan arah strategis.
Integrasi Desain Produk dengan OttoDigital
Desain produk yang kuat bukan hanya soal tampilan, tapi tentang bagaimana pengalaman pengguna terhubung langsung dengan pertumbuhan bisnis. Saat desain produk selaras dengan proses pembayaran, operasional, dan strategi loyalitas, setiap interaksi pelanggan berubah menjadi peluang peningkatan konversi dan lifetime value.
Dengan ekosistem OttoDigital, Anda dapat merancang pengalaman end-to-end yang konsisten mulai dari checkout yang cepat dan aman lewat payment gateway, operasional yang efisien melalui POS system, hingga loyalty program yang memperkuat retensi pelanggan. Semua dirancang untuk mendukung keputusan bisnis berbasis data, bukan asumsi.
Saatnya menjadikan desain produk bukan sekadar fitur, tapi mesin pertumbuhan. Bangun pengalaman yang disukai pengguna, dipercaya manajemen, dan berdampak langsung pada revenue bersama OttoDigital.


