contoh cash flow

Cash Flow : Pengertian, Cara Kerja, dan Tipsnya!

Mengelola cash flow berapa uang yang keluar dibandingkan dengan yang masuk adalah fondasi utama kesehatan bisnis. Bagi usaha kecil dan menengah, hal ini menjadi semakin krusial karena operasional sering berjalan dengan margin yang sangat tipis.

Tekanan inflasi memperbesar tantangan tersebut. Berdasarkan Bank of America 2024 Business Owner Report, sekitar 84% pemilik usaha kecil merasakan dampak inflasi secara langsung. Sebanyak 29% mengalami penurunan penjualan, 30% harus membayar upah lebih tinggi, dan 40% terpaksa mengevaluasi ulang arus kas serta pengeluaran bisnis mereka.

Di kondisi seperti ini, cash flow bukan lagi sekadar laporan keuangan melainkan alat pengambilan keputusan. Bisnis dengan arus kas sehat memiliki fleksibilitas untuk bertahan, beradaptasi, dan tetap tumbuh, bahkan saat kondisi ekonomi tidak ideal. 

Sebaliknya, bisnis yang terlihat “ramai” di penjualan bisa tetap bermasalah jika pencatatan dan pengelolaan arus kas tidak rapi. Lalu bagaimana cara menjaga cash flow? 

Apa Itu Cash Flow?

Cash flow adalah pergerakan uang yang masuk dan keluar dari perusahaan dalam periode tertentu. Jika arus kas masuk lebih besar daripada arus kas keluar, maka bisnis berada dalam kondisi positive cash flow. Sebaliknya, jika pengeluaran lebih besar dari pemasukan, bisnis mengalami negative cash flow.

Bagi perusahaan terbuka, laporan cash flow wajib disajikan dalam laporan keuangan. Data ini menjadi indikator penting bagi investor untuk menilai kesehatan finansial perusahaan, terutama jika dikombinasikan dengan laporan laba rugi dan neraca.

Lebih dari sekadar angka, cash flow mencerminkan kemampuan bisnis dalam menjalankan operasional, membayar kewajiban, dan mendukung pengembangan mulai dari inovasi layanan hingga investasi pada desain produk yang lebih kompetitif. Bisnis dengan cash flow sehat memiliki ruang gerak lebih besar untuk tumbuh dan mengambil keputusan strategis dengan percaya diri.

Rumus dan Cara Menghitung Cash Flow

Untuk mengetahui kondisi arus kas bisnis, Anda bisa menghitung Net Cash Flow (NCF) dengan rumus sederhana berikut:

NCF = TCI − TCO

Keterangan:

  • TCI (Total Cash Inflow): seluruh uang masuk ke bisnis dalam periode tertentu, seperti penjualan, pembayaran pelanggan, atau pendapatan lain.
  • TCO (Total Cash Outflow): seluruh uang keluar, termasuk biaya operasional, gaji, sewa, pembayaran vendor, hingga investasi.

Cara Kerja Cash Flow

Cash flow adalah pergerakan uang masuk dan keluar dari sebuah bisnis dalam periode tertentu. Uang masuk (cash inflow) umumnya berasal dari penjualan, pembayaran pelanggan, bunga, investasi, royalti, atau lisensi. Sementara itu, uang keluar (cash outflow) digunakan untuk biaya operasional seperti gaji, sewa, pembayaran vendor, pajak, hingga investasi bisnis.

Memahami cash flow sangat krusial karena menjadi indikator utama likuiditas, fleksibilitas keuangan, dan kesehatan bisnis secara keseluruhan.

Kenapa Cash Flow Itu Penting?

Cash flow yang positif menandakan aset likuid perusahaan bertambah. Artinya, bisnis memiliki kemampuan untuk:

  • Membayar kewajiban tepat waktu
  • Menjalankan operasional tanpa hambatan
  • Melakukan reinvestasi dan ekspansi
  • Memberi bantalan keuangan saat kondisi ekonomi tidak stabil

Bisnis dengan cash flow yang sehat cenderung lebih tahan terhadap tekanan ekonomi karena tidak bergantung pada pembiayaan darurat atau utang jangka pendek.

Laporan Cash Flow dan Fungsinya

Pergerakan cash flow dicatat dalam laporan arus kas, salah satu laporan keuangan utama selain neraca dan laporan laba rugi. Laporan ini menunjukkan dari mana uang berasal dan ke mana uang digunakan dalam satu periode tertentu.

Bagi manajemen, analis, dan investor, laporan cash flow digunakan untuk menilai:

  • Kemampuan perusahaan membayar utang
  • Efisiensi pengelolaan biaya operasional
  • Kesiapan bisnis untuk tumbuh secara berkelanjutan

Bagian paling penting dari laporan ini adalah net increase/decrease in cash, yang menunjukkan apakah kas perusahaan bertambah atau berkurang dibanding periode sebelumnya.

Jenis-Jenis Cash Flow yang Perlu Dipahami Bisnis

contoh cash flow

Dalam praktik keuangan, cash flow tidak berdiri sendiri. Untuk membaca kesehatan bisnis secara utuh, arus kas dibagi ke dalam tiga kategori utama: operasional, investasi, dan pendanaan. Masing-masing memberikan sudut pandang berbeda tentang bagaimana uang dikelola di dalam perusahaan.

1. Cash Flow from Operations (CFO)

CFO atau operating cash flow menunjukkan arus kas yang berasal langsung dari aktivitas inti bisnis mulai dari produksi hingga penjualan produk atau layanan.

Arus kas ini menggambarkan apakah bisnis benar-benar menghasilkan uang tunai dari operasional hariannya, bukan sekadar mencatat laba di laporan laba rugi.

Secara sederhana, CFO dihitung dari:

  • Penerimaan kas dari penjualan
  • Dikurangi biaya operasional yang dibayarkan secara tunai

Jika CFO positif dan konsisten, artinya bisnis memiliki kemampuan membayar gaji, sewa, vendor, dan biaya operasional lainnya tanpa bergantung pada utang atau investasi eksternal. Bagi investor dan manajemen, ini adalah indikator utama keberlanjutan bisnis.

2. Cash Flow from Investing (CFI)

CFI atau investing cash flow mencerminkan arus kas yang berkaitan dengan aktivitas investasi perusahaan dalam periode tertentu.

Aktivitas ini meliputi:

  • Pembelian atau penjualan aset tetap
  • Investasi pada surat berharga atau bisnis lain
  • Pengeluaran untuk riset dan pengembangan (R&D)

CFI yang negatif tidak selalu berarti masalah. Dalam banyak kasus, ini justru menunjukkan perusahaan sedang berinvestasi untuk pertumbuhan jangka panjang, seperti pengembangan produk, teknologi, atau ekspansi bisnis.

Yang terpenting adalah memastikan investasi tersebut selaras dengan strategi bisnis dan didukung oleh cash flow operasional yang sehat.

3. Cash Flow from Financing (CFF)

Cash flow from financing (CFF) menunjukkan arus kas yang berkaitan dengan pendanaan perusahaan dan struktur modalnya.

Contoh aktivitas financing meliputi:

  • Penerbitan saham atau penarikan utang
  • Pembayaran cicilan pinjaman
  • Pembagian dividen kepada pemegang saham atau owner

Melalui CFF, investor dan manajemen dapat melihat bagaimana perusahaan membiayai pertumbuhannya apakah lebih agresif menggunakan utang, mengandalkan ekuitas, atau menjaga keseimbangan keduanya.

Cash flow dari pendanaan yang dikelola dengan baik mencerminkan disiplin finansial dan strategi modal yang matang.

Tips Mengelola Cash Flow dalam Bisnis agar Tetap Sehat

Mengelola cash flow bukan sekadar mencatat uang masuk dan keluar. Ini soal memastikan bisnis selalu punya ruang bernapas baik saat kondisi normal maupun ketika pasar sedang menantang. Berikut langkah-langkah penting yang bisa diterapkan oleh bisnis skala kecil hingga menengah.

1. Pisahkan Arus Kas Operasional dan Non-Operasional

Pastikan Anda bisa membedakan:

  • Uang dari penjualan harian
  • Uang dari pinjaman, investasi, atau penjualan aset

Dengan pemisahan ini, Anda bisa melihat apakah bisnis benar-benar “hidup” dari operasionalnya, bukan bertahan karena suntikan dana sementara.

2. Percepat Arus Kas Masuk

Semakin cepat uang masuk, semakin sehat cash flow Anda. Beberapa cara yang efektif:

  • Gunakan metode pembayaran digital agar transaksi tidak tertunda
  • Terapkan payment terms yang jelas (misalnya 7 atau 14 hari)
  • Beri insentif untuk pembayaran lebih cepat

Jangan biarkan penjualan tercatat, tapi uangnya belum masuk.

3. Kendalikan Arus Kas Keluar

Tidak semua pengeluaran bersifat mendesak. Evaluasi secara rutin:

  • Biaya langganan yang jarang dipakai
  • Pengeluaran operasional yang bisa dinegosiasikan ulang
  • Pengeluaran besar yang bisa ditunda atau dicicil

Menghemat bukan berarti mengorbankan kualitas, tapi memastikan uang keluar sesuai prioritas.

4. Buat Proyeksi Cash Flow

Jangan hanya melihat kondisi hari ini. Buat proyeksi cash flow mingguan atau bulanan untuk:

  • Mengantisipasi kekurangan kas
  • Menentukan waktu yang tepat untuk ekspansi
  • Menghindari kejutan di akhir bulan

Proyeksi sederhana sudah cukup, asalkan konsisten diperbarui.

5. Siapkan Dana Cadangan

Idealnya, bisnis memiliki buffer kas untuk menutup operasional minimal 3–6 bulan. Dana ini sangat krusial saat:

  • Penjualan menurun
  • Pembayaran pelanggan tertunda
  • Terjadi kondisi ekonomi tidak terduga

Bisnis yang punya cadangan kas cenderung lebih tenang dan rasional dalam mengambil keputusan.

6. Gunakan Sistem yang Terintegrasi

Pengelolaan cash flow akan jauh lebih akurat jika:

  • Transaksi tercatat otomatis
  • Data penjualan, pembayaran, dan pengeluaran saling terhubung
  • Laporan bisa dipantau real-time

Sistem yang rapi membantu pemilik bisnis fokus pada strategi, bukan sekadar mengejar data.

Cash Flow Lebih Rapih dengan OttoDigital

Ingin cash flow bisnis lebih terkontrol, transparan, dan siap tumbuh? Saatnya gunakan sistem terintegrasi yang membantu mencatat penjualan, menerima pembayaran digital, dan memantau arus kas secara real-time. Dengan solusi POS System, Payment Gateway, dan Loyalty Program dari OttoDigital, Anda bisa fokus mengembangkan bisnis tanpa khawatir arus kas bocor di tengah jalan. 

Hanya untuk Karyawan OttoDigital

Situs ini dibatasi hanya untuk karyawan OttoDigital. Pastikan Anda telah masuk dengan email OttoDigital Anda di browser untuk mengunjungi situs ini

Hanya untuk Karyawan OttoDigital

Situs ini dibatasi hanya untuk karyawan OttoDigital. Pastikan Anda telah masuk dengan email OttoDigital Anda di browser untuk mengunjungi situs ini