{"id":19353,"date":"2026-10-16T14:48:34","date_gmt":"2026-10-16T07:48:34","guid":{"rendered":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/?p=19353"},"modified":"2026-10-16T14:48:35","modified_gmt":"2026-10-16T07:48:35","slug":"elastisitas-pendapatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/elastisitas-pendapatan\/","title":{"rendered":"Elastisitas Pendapatan: Pengertian, Rumus, Contoh, dan Penerapannya dalam Bisnis"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendapatan konsumen dapat memengaruhi cara mereka berbelanja. Ketika penghasilan meningkat, sebagian orang mungkin membeli lebih banyak produk tertentu, beralih ke produk dengan kualitas lebih tinggi, atau justru mengurangi konsumsi barang yang sebelumnya sering digunakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan inilah yang dapat dianalisis melalui <strong>elastisitas pendapatan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara sederhana, <strong>elastisitas pendapatan adalah ukuran yang menunjukkan seberapa besar perubahan jumlah permintaan suatu barang atau jasa ketika pendapatan konsumen berubah<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Konsep ini penting bagi bisnis karena membantu memahami apakah permintaan terhadap produk cenderung meningkat, stabil, atau justru menurun ketika daya beli masyarakat berubah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi perusahaan, informasi tersebut dapat digunakan untuk membantu menentukan strategi produk, segmentasi pelanggan, perencanaan stok, hingga proyeksi penjualan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa Itu Elastisitas Pendapatan?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam ilmu ekonomi, elastisitas pendapatan atau <em>income elasticity of demand<\/em> mengukur perubahan persentase jumlah barang yang diminta dibandingkan dengan perubahan persentase pendapatan konsumen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumus dasarnya adalah:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Elastisitas Pendapatan = % Perubahan Jumlah Permintaan \u00f7 % Perubahan Pendapatan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">OpenStax menjelaskan bahwa elastisitas pendapatan dihitung dengan membagi persentase perubahan kuantitas yang diminta dengan persentase perubahan pendapatan. Jika hasilnya positif, barang tersebut umumnya termasuk barang normal. Jika hasilnya negatif, barang tersebut dikategorikan sebagai barang inferior.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendapatan konsumen meningkat 10%.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada periode yang sama, permintaan produk meningkat 15%.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>15% \u00f7 10% = 1,5<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, elastisitas pendapatan produk tersebut adalah <strong>1,5<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permintaan meningkat lebih besar secara proporsional dibanding kenaikan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mengapa Elastisitas Pendapatan Penting?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi bisnis, memahami elastisitas pendapatan membantu melihat bagaimana perubahan kondisi ekonomi dapat memengaruhi perilaku pelanggan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya, ketika pendapatan masyarakat meningkat, permintaan terhadap:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>perjalanan;<\/li>\n\n\n\n<li>produk premium;<\/li>\n\n\n\n<li>elektronik tertentu;<\/li>\n\n\n\n<li>hiburan;<\/li>\n\n\n\n<li>atau kendaraan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">dapat tumbuh lebih cepat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya, beberapa produk justru dapat mengalami penurunan permintaan karena konsumen beralih ke alternatif yang dianggap lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, elastisitas pendapatan dapat membantu bisnis membuat keputusan yang lebih berbasis data.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Rumus Elastisitas Pendapatan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumus sederhananya adalah:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey = %\u0394Q \u00f7 %\u0394Y<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keterangan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey<\/strong> = elastisitas pendapatan<br><strong>%\u0394Q<\/strong> = persentase perubahan jumlah permintaan<br><strong>%\u0394Y<\/strong> = persentase perubahan pendapatan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk menghitung persentase perubahan permintaan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>(Q2 \u2212 Q1) \u00f7 Q1 \u00d7 100%<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sedangkan perubahan pendapatan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>(Y2 \u2212 Y1) \u00f7 Y1 \u00d7 100%<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keterangan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Q1<\/strong> = jumlah permintaan awal<br><strong>Q2<\/strong> = jumlah permintaan setelah perubahan<br><strong>Y1<\/strong> = pendapatan awal<br><strong>Y2<\/strong> = pendapatan setelah perubahan<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Contoh Cara Menghitung Elastisitas Pendapatan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya sebuah bisnis menjual produk A.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data awal:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>permintaan awal: 200 unit;<\/li>\n\n\n\n<li>permintaan baru: 260 unit;<\/li>\n\n\n\n<li>pendapatan konsumen awal: Rp4 juta;<\/li>\n\n\n\n<li>pendapatan konsumen baru: Rp5 juta.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 1: Hitung Perubahan Permintaan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">260 \u2212 200 = <strong>60 unit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persentase perubahan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>60 \u00f7 200 \u00d7 100% = 30%<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 2: Hitung Perubahan Pendapatan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rp5 juta \u2212 Rp4 juta = <strong>Rp1 juta<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persentase perubahan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Rp1 juta \u00f7 Rp4 juta \u00d7 100% = 25%<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 3: Hitung Elastisitas Pendapatan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>30% \u00f7 25% = 1,2<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasilnya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey = 1,2<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena nilainya positif dan lebih besar dari 1, permintaan produk tersebut meningkat lebih besar secara proporsional dibanding peningkatan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produk dengan karakteristik seperti ini sering diasosiasikan dengan barang normal yang bersifat lebih sensitif terhadap perubahan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Cara Membaca Nilai Elastisitas Pendapatan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nilai elastisitas pendapatan tidak hanya menunjukkan apakah permintaan naik atau turun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Angkanya juga dapat membantu mengklasifikasikan karakter produk.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Elastisitas Pendapatan Lebih Besar dari 1<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey &gt; 1<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">maka permintaan meningkat lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produk seperti ini sering dikategorikan sebagai barang normal dengan sifat lebih elastis terhadap pendapatan, yang dalam banyak pembahasan ekonomi dikaitkan dengan barang atau jasa yang relatif lebih bersifat mewah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya dapat berupa:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>perjalanan wisata;<\/li>\n\n\n\n<li>kendaraan premium;<\/li>\n\n\n\n<li>restoran premium;<\/li>\n\n\n\n<li>atau layanan hiburan tertentu.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, kategorinya tetap dapat berbeda berdasarkan kelompok konsumen dan kondisi pasar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Elastisitas Pendapatan Antara 0 dan 1<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>0 &lt; Ey &lt; 1<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">permintaan tetap meningkat ketika pendapatan naik, tetapi peningkatannya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produk seperti ini umumnya dianggap sebagai barang normal dengan karakteristik kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya dapat berupa beberapa kebutuhan pokok.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendapatan mungkin meningkat cukup besar, tetapi seseorang tidak otomatis mengonsumsi beras atau garam dua kali lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Elastisitas Pendapatan Sama dengan 1<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey = 1<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">maka persentase perubahan permintaan sama dengan perubahan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>pendapatan naik 10%;<\/li>\n\n\n\n<li>permintaan juga naik 10%.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permintaan berubah secara proporsional terhadap pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Elastisitas Pendapatan Sama dengan 0<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey = 0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">perubahan pendapatan hampir tidak menyebabkan perubahan jumlah permintaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">OpenStax memberikan contoh produk dengan elastisitas pendapatan mendekati nol seperti garam, karena peningkatan pendapatan tidak membuat konsumen meningkatkan konsumsinya secara signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memahami <a href=\"https:\/\/www.google.com\/search?q=https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/fungsi-komputer\/\"><strong>fungsi komputer<\/strong><\/a> secara maksimal sangat membantu percepatan pemrosesan data operasional harian toko.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Elastisitas Pendapatan Negatif<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey &lt; 0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">kenaikan pendapatan justru membuat permintaan turun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produk tersebut disebut <strong>barang inferior<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">OpenStax menjelaskan bahwa barang inferior merupakan barang yang permintaannya berkurang ketika pendapatan meningkat karena konsumen mulai beralih ke pilihan yang lebih mereka sukai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya dapat berbeda berdasarkan karakter konsumen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seseorang yang sebelumnya sering menggunakan transportasi dengan biaya paling murah mungkin beralih ke kendaraan pribadi atau layanan transportasi lain setelah pendapatannya meningkat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penting untuk dipahami bahwa istilah \u201cinferior\u201d bukan berarti produknya buruk. Istilah tersebut hanya menjelaskan hubungan statistik antara pendapatan dan permintaan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Barang Normal dan Barang Inferior<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Klasifikasi paling mendasar dalam elastisitas pendapatan adalah barang normal dan inferior.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Barang Normal<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Barang normal memiliki:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey &gt; 0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, ketika pendapatan meningkat, permintaannya juga meningkat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya dapat berupa:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>pakaian;<\/li>\n\n\n\n<li>makanan tertentu;<\/li>\n\n\n\n<li>elektronik;<\/li>\n\n\n\n<li>perjalanan;<\/li>\n\n\n\n<li>atau layanan hiburan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">OpenStax menjelaskan bahwa kenaikan pendapatan menyebabkan kurva permintaan barang normal bergeser ke kanan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Barang Inferior<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Barang inferior memiliki:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey &lt; 0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika pendapatan meningkat, konsumen membeli lebih sedikit produk tersebut karena beralih ke alternatif lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kurva permintaannya dapat bergeser ke kiri ketika pendapatan meningkat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, sebuah barang tidak selalu inferior untuk seluruh kelompok masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karakteristiknya dapat bergantung pada:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>pendapatan;<\/li>\n\n\n\n<li>lokasi;<\/li>\n\n\n\n<li>budaya;<\/li>\n\n\n\n<li>preferensi;<\/li>\n\n\n\n<li>dan pilihan alternatif yang tersedia.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apakah Barang Mewah Selalu Mahal?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak selalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam teori elastisitas pendapatan, barang yang sering disebut <em>luxury goods<\/em> lebih berkaitan dengan respons permintaan terhadap pendapatan, bukan sekadar harga yang mahal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika pendapatan konsumen naik 10% dan permintaan suatu produk meningkat 25%, produk tersebut memiliki elastisitas pendapatan 2,5.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara ekonomi, permintaannya sangat sensitif terhadap perubahan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, pengelompokan barang berdasarkan elastisitas tidak hanya melihat nominal harga.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pengaruh Elastisitas Pendapatan terhadap Kurva Permintaan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan pendapatan merupakan salah satu faktor yang dapat menggeser kurva permintaan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Barang Normal<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika pendapatan meningkat, permintaan barang normal meningkat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kurva permintaan bergeser ke kanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika pendapatan menurun, permintaan dapat berkurang dan kurva bergeser ke kiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perkembangan teknologi kini menghadirkan beragam opsi <a href=\"https:\/\/www.google.com\/search?q=https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/alat-pembayaran\/\"><strong>alat pembayaran<\/strong><\/a> non-tunai yang praktis dan aman.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Barang Inferior<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hubungannya berkebalikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika pendapatan meningkat, permintaan barang inferior dapat menurun sehingga kurva bergeser ke kiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika pendapatan turun, permintaan barang inferior justru dapat meningkat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Besarnya pergeseran tersebut akan bergantung pada nilai elastisitas pendapatannya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Faktor yang Memengaruhi Elastisitas Pendapatan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada satu nilai elastisitas yang berlaku permanen untuk sebuah produk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nilainya dapat berubah karena beberapa hal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Jenis Produk<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebutuhan pokok biasanya tidak terlalu responsif terhadap peningkatan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya, produk yang bersifat pilihan atau premium dapat lebih sensitif.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Tingkat Pendapatan Konsumen<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produk yang dianggap mewah bagi satu kelompok dapat menjadi kebutuhan biasa bagi kelompok pendapatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, hasil analisis perlu mempertimbangkan segmen konsumen.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Preferensi Konsumen<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selera dapat mengubah hubungan antara pendapatan dan permintaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produk yang sedang populer dapat mengalami pertumbuhan permintaan lebih tinggi meskipun pendapatan tidak berubah banyak.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Ketersediaan Alternatif<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika pendapatan meningkat, konsumen dapat mengganti produk lama dengan produk lain yang dianggap memiliki kualitas lebih tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal ini dapat menyebabkan produk lama memiliki elastisitas pendapatan negatif pada kelompok tertentu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Periode Analisis<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perilaku konsumen dalam jangka pendek dapat berbeda dengan jangka panjang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, data sebaiknya dibandingkan dalam periode yang konsisten.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Perbedaan Elastisitas Pendapatan dan Elastisitas Harga<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua istilah ini sama-sama mengukur respons permintaan, tetapi faktor yang berubah berbeda.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Elastisitas Pendapatan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengukur perubahan permintaan karena <strong>perubahan pendapatan konsumen<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumus:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>% perubahan permintaan \u00f7 % perubahan pendapatan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Elastisitas Harga<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengukur perubahan permintaan akibat <strong>perubahan harga produk itu sendiri<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi, jika harga kopi berubah kemudian penjualan berubah, analisisnya lebih dekat dengan elastisitas harga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika pendapatan konsumen berubah dan konsumsi kopi ikut berubah, analisisnya menggunakan elastisitas pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anda dapat mengukur sejauh mana hubungan antarvariabel bisnis dengan menerapkan <a href=\"https:\/\/www.google.com\/search?q=https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/koefisien-korelasi\/\"><strong>rumus korelasi<\/strong><\/a> secara tepat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Penerapan Elastisitas Pendapatan dalam Bisnis<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Konsep ini tidak hanya digunakan dalam teori ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisnis dapat memanfaatkannya dalam berbagai keputusan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Membantu Membuat Proyeksi Penjualan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya sebuah bisnis mengetahui produknya memiliki elastisitas pendapatan sebesar 1,5.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika pendapatan target pasar diperkirakan meningkat, bisnis dapat memperkirakan bahwa permintaan berpotensi tumbuh lebih cepat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Informasi ini dapat digunakan bersama data lain untuk membuat proyeksi penjualan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Menentukan Kapasitas Stok<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisnis dengan produk yang sangat sensitif terhadap pendapatan perlu lebih memperhatikan kondisi ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat daya beli tumbuh, permintaan dapat meningkat cepat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika stok tidak siap, bisnis dapat kehilangan peluang penjualan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya, ketika daya beli melemah, stok terlalu besar dapat menyebabkan biaya penyimpanan meningkat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Menentukan Segmentasi Produk<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu perusahaan dapat menawarkan beberapa kategori.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>produk ekonomis;<\/li>\n\n\n\n<li>produk standar;<\/li>\n\n\n\n<li>produk premium.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika pendapatan konsumen berubah, permintaan setiap kategori dapat bergerak berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan memahami perilaku tersebut, bisnis dapat menentukan komposisi produk yang lebih sesuai.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Membantu Strategi Ekspansi<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Elastisitas pendapatan juga dapat membantu bisnis menilai karakter pasar baru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika suatu produk lebih banyak dibeli kelompok berpendapatan tinggi, ekspansi dapat diarahkan ke wilayah yang memiliki karakteristik konsumen sesuai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, keputusan ekspansi tetap perlu didukung data lain seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>ukuran pasar;<\/li>\n\n\n\n<li>persaingan;<\/li>\n\n\n\n<li>biaya distribusi;<\/li>\n\n\n\n<li>dan perilaku pelanggan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Membantu Perencanaan saat Ekonomi Melambat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika pendapatan masyarakat menurun, bisnis dengan produk yang elastis terhadap pendapatan dapat mengalami penurunan permintaan lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perusahaan dapat menyiapkan strategi seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>memperkenalkan ukuran lebih kecil;<\/li>\n\n\n\n<li>membuat kategori harga lebih terjangkau;<\/li>\n\n\n\n<li>menyesuaikan stok;<\/li>\n\n\n\n<li>atau memperkuat produk inti.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dinamika harga barang di pasar sangat dipengaruhi oleh prinsip dasar <a href=\"https:\/\/www.google.com\/search?q=https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/hukum-permintaan-dan-penawaran\/\"><strong>hukum permintaan dan penawaran<\/strong><\/a>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>6. Membantu Membaca Perubahan Pola Konsumsi<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan pendapatan tidak selalu menghasilkan lebih banyak pembelian produk yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelanggan dapat melakukan <em>trading up<\/em>, yaitu berpindah ke produk yang dianggap lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya dari:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>produk standar \u2192 produk premium<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">atau:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>layanan dasar \u2192 paket dengan fitur lebih lengkap.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisnis perlu membaca pergeseran tersebut agar tidak hanya melihat total volume penjualan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Contoh Elastisitas Pendapatan dalam Bisnis<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bayangkan sebuah jaringan restoran memiliki dua kategori menu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Menu Ekonomis<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendapatan pelanggan naik 20%, tetapi permintaan hanya naik 4%.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey = 4% \u00f7 20% = 0,2<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, permintaan relatif tidak sensitif terhadap peningkatan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Menu Premium<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada periode yang sama, permintaan menu premium meningkat 40%.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey = 40% \u00f7 20% = 2<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, permintaan kategori premium jauh lebih responsif terhadap peningkatan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari data tersebut, bisnis dapat mempertimbangkan menambah kapasitas kategori premium ketika daya beli target pasar meningkat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Contoh Elastisitas Pendapatan Negatif<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya pendapatan rata-rata pelanggan meningkat 10%.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, penjualan produk ekonomis turun 5%.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey = \u22125% \u00f7 10%<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ey = \u22120,5<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nilai negatif menunjukkan bahwa produk tersebut memiliki karakteristik inferior dalam kelompok konsumen yang dianalisis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisa jadi pelanggan mulai berpindah ke versi produk yang lebih premium.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kesalahan yang Sering Terjadi saat Menggunakan Elastisitas Pendapatan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Menganggap Semua Barang Normal Memiliki Nilai yang Sama<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sama-sama memiliki nilai positif bukan berarti respons permintaannya sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produk dengan Ey 0,2 jauh lebih tidak sensitif dibanding produk dengan Ey 2.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemilik usaha perlu memahami bahwa <a href=\"https:\/\/www.google.com\/search?q=https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/cogs-adalah\/\"><strong>cogs adalah<\/strong><\/a> indikator penting untuk mengukur efisiensi biaya langsung dari barang yang terjual.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Menganggap Barang Inferior Berarti Berkualitas Buruk<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak tepat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cInferior\u201d adalah istilah ekonomi untuk menjelaskan hubungan antara pendapatan dan permintaan, bukan penilaian kualitas.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Menggunakan Perubahan Harga sebagai Perubahan Pendapatan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika yang berubah adalah harga produk, analisis yang tepat bukan elastisitas pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tidak Memisahkan Segmen Konsumen<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produk yang normal bagi satu segmen dapat berperilaku berbeda pada segmen lainnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mengambil Kesimpulan Hanya dari Dua Data<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semakin sedikit observasi, semakin tinggi risiko hasil dipengaruhi kondisi sementara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk keputusan bisnis yang penting, gunakan data beberapa periode.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bagaimana Bisnis Menggunakan Data Elastisitas Pendapatan?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Agar lebih aplikatif, bisnis dapat mengikuti beberapa langkah berikut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kumpulkan Data Penjualan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gunakan data:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>jumlah produk terjual;<\/li>\n\n\n\n<li>nilai transaksi;<\/li>\n\n\n\n<li>kategori produk;<\/li>\n\n\n\n<li>lokasi;<\/li>\n\n\n\n<li>dan periode.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Gunakan Data Pendapatan yang Relevan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendapatan konsumen dapat diperoleh dari:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>survei pelanggan;<\/li>\n\n\n\n<li>data statistik resmi;<\/li>\n\n\n\n<li>segmentasi pasar;<\/li>\n\n\n\n<li>atau riset pihak ketiga.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pisahkan Produk Berdasarkan Kategori<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jangan mencampurkan produk ekonomis dan premium apabila perilakunya berbeda.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bandingkan Beberapa Periode<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gunakan data yang cukup panjang agar hasil tidak terlalu dipengaruhi promosi atau kejadian sesaat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Gabungkan dengan Data Lain<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Elastisitas pendapatan bukan satu-satunya dasar keputusan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertimbangkan juga:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>harga;<\/li>\n\n\n\n<li>promo;<\/li>\n\n\n\n<li>kompetitor;<\/li>\n\n\n\n<li>musim;<\/li>\n\n\n\n<li>biaya;<\/li>\n\n\n\n<li>serta tren pasar.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fungsi pengawasan atau <a href=\"https:\/\/www.google.com\/search?q=https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/controlling-adalah\/\"><strong>controlling adalah<\/strong><\/a> tahap penting dalam manajemen untuk memastikan seluruh kegiatan operasional berjalan sesuai rencana.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pertanyaan Seputar Elastisitas Pendapatan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa yang dimaksud dengan elastisitas pendapatan?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Elastisitas pendapatan adalah ukuran yang menunjukkan seberapa responsif jumlah permintaan suatu barang atau jasa terhadap perubahan pendapatan konsumen.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa rumus elastisitas pendapatan?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumusnya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Elastisitas Pendapatan = Persentase Perubahan Jumlah Permintaan \u00f7 Persentase Perubahan Pendapatan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Jika elastisitas pendapatan positif artinya apa?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, permintaan cenderung meningkat ketika pendapatan konsumen meningkat. Produk seperti ini disebut barang normal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Jika elastisitas pendapatan negatif artinya apa?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, permintaan menurun ketika pendapatan meningkat. Produk tersebut disebut barang inferior.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Elastisitas pendapatan lebih dari 1 artinya apa?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, persentase perubahan permintaan lebih besar dibanding persentase perubahan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa perbedaan elastisitas pendapatan dengan elastisitas harga?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Elastisitas pendapatan mengukur respons permintaan terhadap perubahan pendapatan, sedangkan elastisitas harga mengukur respons permintaan terhadap perubahan harga produk.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Elastisitas Pendapatan Membantu Bisnis Membaca Perubahan Permintaan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memahami <strong>elastisitas pendapatan<\/strong> membantu bisnis melihat bahwa perubahan daya beli tidak selalu memberikan dampak yang sama terhadap setiap produk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika pendapatan masyarakat meningkat:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>beberapa produk mengalami pertumbuhan permintaan;<\/li>\n\n\n\n<li>beberapa relatif stabil;<\/li>\n\n\n\n<li>sementara yang lain justru mengalami penurunan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Informasi tersebut dapat digunakan untuk membantu bisnis merencanakan produksi, stok, segmentasi, hingga ekspansi dengan lebih terukur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, ketika permintaan dan transaksi mulai bertambah, bisnis juga perlu memastikan proses pembayaran mampu mengikuti pertumbuhan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Dukung Pertumbuhan Transaksi dengan Payment Gateway OttoDigital<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika analisis elastisitas pendapatan menunjukkan potensi peningkatan permintaan, bisnis perlu memastikan kapasitas operasional siap menangani volume transaksi yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satunya adalah melalui sistem pembayaran yang terintegrasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/ottodigital.id\/payment\/?utm_source=website_organik&amp;utm_medium=articles&amp;utm_campaign=seo\"><strong>Payment Gateway<\/strong><\/a> <strong>OttoDigital<\/strong> membantu bisnis menerima berbagai metode pembayaran digital melalui satu sistem. OttoDigital menyediakan solusi seperti <strong>QRIS, Virtual Account, kartu debit dan kredit, Payment Link, serta layanan pembayaran digital lainnya<\/strong> yang dapat diintegrasikan dengan situs, aplikasi, maupun sistem internal bisnis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">OttoDigital juga menyediakan Business Portal untuk melihat transaksi dan kebutuhan <em>invoicing<\/em>, serta solusi Secure Page atau Payment Link dan Billing System untuk QRIS maupun Virtual Account.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan metode pembayaran yang lebih fleksibel, pelanggan dapat memilih cara transaksi sesuai kebutuhannya, sementara bisnis dapat mengelola pertumbuhan volume pembayaran dengan lebih terstruktur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Gunakan Payment Gateway OttoDigital untuk membantu bisnis menerima dan mengelola pembayaran secara lebih praktis ketika permintaan pelanggan mulai berkembang.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendapatan konsumen dapat memengaruhi cara mereka berbelanja. Ketika penghasilan meningkat, sebagian orang mungkin membeli lebih banyak produk tertentu, beralih ke produk dengan kualitas lebih tinggi, atau justru mengurangi konsumsi barang yang sebelumnya sering digunakan. Perubahan inilah yang dapat dianalisis melalui elastisitas pendapatan. Secara sederhana, elastisitas pendapatan adalah ukuran yang menunjukkan seberapa besar perubahan jumlah permintaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":19343,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[30,31],"class_list":["post-19353","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ottodigital-id","tag-payment-gateway-id"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19353","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19353"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19353\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19354,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19353\/revisions\/19354"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19343"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19353"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19353"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19353"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}