{"id":14900,"date":"2026-01-30T11:00:00","date_gmt":"2026-01-30T04:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ottodigital.id\/?p=14900"},"modified":"2026-01-30T11:00:00","modified_gmt":"2026-01-30T04:00:00","slug":"debit-adalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/debit-adalah\/","title":{"rendered":"Debit Adalah Konsep Keuangan untuk Pembayaran"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Debit adalah kewajiban finansial yang muncul ketika seseorang atau bisnis meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan yang belum bisa dibayar secara langsung, lalu mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu, biasanya disertai bunga. Dalam konteks keuangan modern, debit sering muncul melalui kartu kredit, pinjaman usaha, cicilan aset, hingga fasilitas pembiayaan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi pelaku usaha, debit bukan selalu hal negatif. Justru, jika dikelola dengan tepat, debit bisa menjadi alat strategis untuk mempercepat pertumbuhan bisnis mulai dari membuka cabang, menambah modal kerja, hingga menjaga arus kas tetap stabil saat kondisi pasar menantang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, debit yang tidak terkontrol berisiko menekan <em>cash flow<\/em>, membebani laporan keuangan, dan menyulitkan bisnis mendapatkan pembiayaan di masa depan. Karena itu, memahami cara kerja debit dan tanggung jawab di baliknya menjadi hal krusial.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Debit adalah<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dilansir <a href=\"https:\/\/www.cnb.com\/personal-banking\/insights\/what-is-debt.html\" rel=\"noopener\">CNB<\/a>, <strong>debit adalah<\/strong> kewajiban finansial yang muncul ketika seseorang atau perusahaan menggunakan dana pinjaman untuk memenuhi kebutuhan tertentu dan berkomitmen mengembalikannya dalam jangka waktu yang disepakati, umumnya disertai bunga atau biaya tambahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Debit bukan sekadar \u201cutang\u201d. Ia adalah alat keuangan yang bisa menjadi <strong>pengungkit pertumbuhan<\/strong> jika dikelola dengan benar, namun juga bisa menjadi <strong>beban serius<\/strong> jika digunakan tanpa perencanaan dan kontrol yang baik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mengapa Debit Banyak Digunakan?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baik individu maupun perusahaan menggunakan debit karena beberapa alasan utama:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengatasi keterbatasan dana jangka pendek<\/li>\n\n\n\n<li>Membiayai kebutuhan besar tanpa menunggu kas tersedia<\/li>\n\n\n\n<li>Menjaga kelancaran operasional bisnis<\/li>\n\n\n\n<li>Mendukung ekspansi dan investasi strategis<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks bisnis, debit sering kali digunakan untuk menutup <em>gap<\/em> antara pemasukan dan pengeluaran, terutama saat skala usaha mulai tumbuh.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bagaimana Cara Kerja Debit?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara sederhana, debit bekerja melalui mekanisme berikut:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Peminjaman dana<\/strong><strong><br><\/strong>Pihak peminjam menerima sejumlah dana dari bank, lembaga keuangan, atau penyedia kredit.<br><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Perjanjian pengembalian<\/strong><strong><br><\/strong>Disepakati tenor, bunga, biaya, dan jadwal pembayaran.<br><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pembayaran bertahap<\/strong><strong><br><\/strong>Pengembalian dilakukan secara berkala, terdiri dari pokok dan bunga.<br><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Risiko &amp; konsekuensi<\/strong><strong><br><\/strong>Keterlambatan atau gagal bayar dapat memengaruhi reputasi kredit, arus kas, hingga keberlangsungan usaha.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Jenis-Jenis Debit yang Perlu Dipahami<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jenis-jenis debit perlu diketahui juga untuk <a href=\"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/artikel\/owner\/\">owner<\/a> maupun pemilik bisnis agar lebih mudah mengetahuinya berikut ini:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Debit Beragun<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Debit yang dijamin aset tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kredit kendaraan<\/li>\n\n\n\n<li>Kredit properti<\/li>\n\n\n\n<li>Pembiayaan mesin produksi<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Karakteristik:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Bunga relatif lebih rendah<\/li>\n\n\n\n<li>Risiko lebih kecil bagi pemberi pinjaman<\/li>\n\n\n\n<li>Aset bisa disita jika gagal bayar<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Debit Tanpa Agunan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Debit tanpa jaminan aset.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kartu kredit<\/li>\n\n\n\n<li>Pinjaman personal<\/li>\n\n\n\n<li>Kredit modal kerja tanpa agunan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Karakteristik:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Proses lebih cepat<\/li>\n\n\n\n<li>Bunga cenderung lebih tinggi<\/li>\n\n\n\n<li>Bergantung pada reputasi dan riwayat kredit<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Debit Bergulir<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jenis debit dengan limit yang bisa digunakan berulang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kartu kredit bisnis<\/li>\n\n\n\n<li><em>Credit line<\/em><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Karakteristik:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Fleksibel untuk kebutuhan harian<\/li>\n\n\n\n<li>Risiko menumpuk jika tidak dikontrol<\/li>\n\n\n\n<li>Cocok untuk transaksi operasional jangka pendek<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Debit Jangka Panjang<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Umumnya digunakan untuk aset bernilai besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>KPR<\/li>\n\n\n\n<li>Pembiayaan properti usaha<\/li>\n\n\n\n<li>Investasi infrastruktur bisnis<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Karakteristik:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Tenor panjang (10\u201330 tahun)<\/li>\n\n\n\n<li>Cicilan stabil<\/li>\n\n\n\n<li>Perlu perencanaan arus kas jangka panjang<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Debit dalam Perspektif Bisnis<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi pelaku usaha, <strong>debit adalah instrumen strategis<\/strong>, bukan sekadar solusi darurat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Debit bisa menjadi peluang jika:<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Digunakan untuk ekspansi produktif<\/li>\n\n\n\n<li>Membantu menjaga <em>cash flow<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Memberikan <em>leverage<\/em> pertumbuhan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Debit menjadi risiko jika:<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Tidak diimbangi pemasukan yang sehat<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak dipantau secara real-time<\/li>\n\n\n\n<li>Membebani arus kas dan margin<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak bisnis terlihat \u201claku\u201d, tetapi sebenarnya rapuh karena manajemen debit yang buruk. Terlebih lagi untuk pengusaha atau <a href=\"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/artikel\/entrepreneur-adalah\/\">entrepreneur<\/a> dalam mengambil keputusan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tantangan Utama dalam Mengelola Debit<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Sulit memantau banyak transaksi dan kewajiban pembayaran<\/li>\n\n\n\n<li>Ketidaksinkronan antara pemasukan dan cicilan<\/li>\n\n\n\n<li>Minimnya data real-time untuk pengambilan keputusan<\/li>\n\n\n\n<li>Biaya bunga dan denda yang tidak terkontrol<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanpa sistem yang rapi, debit bisa diam-diam menggerus kesehatan keuangan bisnis.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Strategi Mengelola Debit agar Tetap Sehat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa prinsip penting yang perlu diterapkan:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Gunakan debit untuk kebutuhan produktif<\/li>\n\n\n\n<li>Pastikan cicilan selaras dengan arus kas<\/li>\n\n\n\n<li>Prioritaskan pelunasan bunga tertinggi<\/li>\n\n\n\n<li>Hindari menutup debit lama dengan debit baru tanpa strategi<\/li>\n\n\n\n<li>Gunakan sistem pembayaran dan pencatatan yang terintegrasi<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sinilah peran teknologi pembayaran dan sistem digital menjadi sangat krusial.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Peran Sistem Pembayaran dalam Kontrol Debit<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sistem pembayaran yang terintegrasi membantu bisnis untuk:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Melacak pemasukan secara real-time<\/li>\n\n\n\n<li>Menjaga visibilitas arus kas<\/li>\n\n\n\n<li>Mengurangi risiko keterlambatan pembayaran<\/li>\n\n\n\n<li>Membantu perencanaan pelunasan debit secara lebih akurat<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisnis yang rapi secara transaksi biasanya lebih sehat dalam mengelola debit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Debit adalah alat keuangan<\/strong>, bukan musuh. Namun, tanpa strategi dan sistem yang tepat, debit dapat berubah menjadi beban jangka panjang yang menghambat pertumbuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisnis yang matang bukan bisnis tanpa debit, melainkan bisnis yang <strong>mampu mengelola debit dengan disiplin, data, dan sistem yang tepat<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apakah Membayar Debit Itu Pilihan yang Tepat?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/debit-adalah-2-1024x682.jpg\" alt=\"debit adalah\" class=\"wp-image-14901\" srcset=\"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/debit-adalah-2-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/debit-adalah-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/debit-adalah-2-768x512.jpg 768w, https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/debit-adalah-2.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara umum, <strong>membayar debit adalah keputusan yang baik<\/strong>, terutama jika debit tersebut memiliki bunga tinggi. Setiap rupiah yang digunakan untuk membayar bunga sebenarnya adalah biaya yang mengurangi potensi bisnis atau keuangan pribadi Anda untuk berkembang. Dana yang tadinya habis untuk bunga bisa dialihkan menjadi tabungan, modal usaha, atau investasi jangka panjang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, tidak semua debit harus dilunasi secepat mungkin. Keputusan membayar debit perlu dilihat secara strategis, tergantung pada <strong>jenis debit, tingkat bunga, dan peluang imbal hasil lain yang tersedia<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kapan Membayar Debit Sangat Disarankan?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Membayar debit sebaiknya diprioritaskan jika:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Debit memiliki <strong>bunga tinggi<\/strong> (misalnya kartu kredit atau <em>revolving credit<\/em>)<\/li>\n\n\n\n<li>Cicilan mulai <strong>mengganggu arus kas<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>Risiko denda dan penalti semakin besar<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak ada alternatif investasi dengan imbal hasil lebih tinggi<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks bisnis, debit dengan bunga tinggi yang tidak produktif bisa menekan margin dan memperlambat pertumbuhan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kapan Menyimpan Debit Masih Masuk Akal?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada kondisi tertentu di mana <strong>melunasi debit tidak selalu menjadi pilihan terbaik<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya:<br>Anda memiliki sisa kredit properti Rp1 miliar dengan bunga 3% per tahun. Di sisi lain, bisnis atau portofolio investasi Anda mampu menghasilkan <em>return<\/em> rata-rata 7% per tahun. Dalam situasi ini, menggunakan seluruh dana untuk melunasi kredit bisa membuat Anda kehilangan potensi pertumbuhan yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, <strong>debit murah dan terkontrol masih bisa menjadi alat leverage<\/strong>, selama arus kas tetap sehat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apakah Lebih Baik Bebas Debit Sepenuhnya?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jawabannya kembali ke tujuan dan kenyamanan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi sebagian orang, bebas debit memberikan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Rasa aman secara psikologis<\/li>\n\n\n\n<li>Beban mental yang lebih ringan<\/li>\n\n\n\n<li>Fleksibilitas keuangan jangka panjang<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun bagi pelaku usaha dan investor, <strong>debit yang terkelola dengan baik<\/strong> sering kali menjadi bagian dari strategi keuangan yang rasional dan terukur. Kuncinya bukan bebas debit, melainkan <strong>bebas dari debit yang tidak terkendali<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mengapa Orang Bisa Terjebak Debit?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang dan bisnis biasanya masuk ke masalah debit karena:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengambil pinjaman di luar kemampuan bayar<\/li>\n\n\n\n<li>Terlalu mengandalkan kredit jangka pendek<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak memiliki perencanaan arus kas<\/li>\n\n\n\n<li>Kurang disiplin dalam pengelolaan pengeluaran<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Membangun anggaran dan sistem pencatatan yang rapi adalah langkah paling efektif untuk mencegah debit menjadi masalah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa yang Terjadi dengan Debit Jika Seseorang Meninggal?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara umum, <strong>debit tidak otomatis diwariskan<\/strong> kepada keluarga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Debit akan dibayarkan dari:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Aset dan dana yang dimiliki almarhum (<em>estate<\/em>)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika aset tidak mencukupi, sisa debit biasanya tidak dibebankan ke keluarga, kecuali:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ada <em>joint account<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Ada <em>co-signer<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Ada perjanjian hukum tertentu<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prinsip ini penting dipahami, terutama dalam perencanaan keuangan keluarga dan bisnis keluarga.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bagaimana Jika Menikah dengan Pasangan yang Memiliki Debit?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Debit yang dimiliki pasangan sebelum menikah <strong>tetap menjadi tanggung jawab pribadi pasangan tersebut<\/strong>. Anda tidak otomatis menanggungnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, debit pasangan tetap bisa berdampak pada:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Arus kas rumah tangga<\/li>\n\n\n\n<li>Kemampuan menabung atau berinvestasi<\/li>\n\n\n\n<li>Perencanaan keuangan jangka panjang<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Risiko baru muncul jika:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Anda ikut menandatangani pinjaman<\/li>\n\n\n\n<li>Membuka akun kredit bersama<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Transparansi dan perencanaan bersama menjadi kunci.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Buat Debit Lebih Bermakna<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Debit adalah alat keuangan<\/strong>, bukan masalah selama digunakan dengan sadar dan terukur. Membayar debit adalah langkah bijak, terutama untuk debit berbunga tinggi. Namun, mempertahankan debit dengan bunga rendah juga bisa rasional jika dana tersebut menghasilkan nilai yang lebih besar di tempat lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam bisnis, yang terpenting bukan sekadar melunasi debit, melainkan <strong>mengelola debit secara strategis, berbasis data, dan selaras dengan arus kas<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ingin pengelolaan debit dan arus kas bisnis lebih terkendali?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>OttoDigital membantu bisnis mencatat transaksi, memantau pemasukan, dan menjaga visibilitas keuangan secara real-time<\/strong> melalui solusi <a href=\"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/payment\/?utm_source=website_organik&#038;utm_medium=articles&#038;utm_campaign=seo\" target=\"_blank\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/ottodigital.id\/payment\/?utm_source=website_organik&amp;utm_medium=articles&amp;utm_campaign=seo\" rel=\"noreferrer noopener\"><em>payment gateway<\/em><\/a>, QRIS, dan sistem pembayaran terintegrasi.\u00a0 <strong>Keuangan lebih rapi, keputusan lebih presisi, bisnis lebih siap tumbuh.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Debit adalah kewajiban finansial yang muncul ketika seseorang atau bisnis meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan yang belum bisa dibayar secara langsung, lalu mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu, biasanya disertai bunga. Dalam konteks keuangan modern, debit sering muncul melalui kartu kredit, pinjaman usaha, cicilan aset, hingga fasilitas pembiayaan lainnya. Bagi pelaku usaha, debit bukan selalu hal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14902,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[192,30,31,202],"class_list":["post-14900","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-loyalty-program-id","tag-ottodigital-id","tag-payment-gateway-id","tag-pos-system"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14900","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14900"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14900\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14902"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14900"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14900"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ottodigital.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14900"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}